Laman

Ikhsan Hargo Kusumo

Selasa, 14 Mei 2013

EKSKUL YANG BERAKHIR


EKSKUL YANG BERAKHIR

Dengan penuh keyakinan saya selalu mengawali segala langkah kaki dengan sikap optimis dan sebisa mungkin menghilangkan pamrih dan keterpaksaan untuk melakukan pekerjaan yang buat saya adalah merupakan pengasahan perasaan kita sebagai seorang manusia. Di tempat ini, Al Azhar yang merupakan sekolah SMP yang berasaskan ISLAM dan sedang dalam proses berkembang saya mengajarkan bagaimana memahami seni khususnya melukis menjadi sebuah alternatif untuk mengungkapkan perasaan melalui jalur yang terarah dan santun. Bersama anak-anak yang tidak terlalu banyak hanya 6 orang itu pun ada yang harus keluar atau tidak bisa mengkuti kegiatan ekskul melukis dengan nyaman karena harus ijin dan sebagainya. Terlepas dari semua yang terjadi saya merasa cukup bahagia dapat memberikan sedikit saja yang saya punya kepada mereka, yaitu belajar bersama untuk mengungkapkan isi hati melalui media lukis dangan tetap menjunjung kesantunan hati, keramahan bertindak, dan tidak adanya keterpaksaan.

Dengan sambutan awal yang friendly, ramah dan lugunya anak-anak SMP, Saya merasa seperti diperlakukan dengan menyenangkan, dan memang cukup menyenangkan. Merupakan rutinitas yang selalu membuat hati rindu jika mengingat moment tersebut kini telah tiada.
Begitu saya masuk di dalam kelas saya harus menanti kedatangan mereka (anak-anak SMP Al Azhar). Sembari menantikan mereka siap untuk belajar bersama-sama saya selalu menyempatkan untuk memandangi setiap sisi dari tempat saya mengajar ini. Di balik jendela kelas saya melihat pemandangan kota yang sedang dibagun dengan tinggi dan bertingkat. Dan setiap kali saya datang perubahan itu terlihat jelas. Disana saya melihat kehidupan, melihat perubahan yang mengajarkan saya bahwa hidup ini adalah proses, proses yang melahirkan perubahan-perubahan didalamnya.
Tidak kalah menariknya pemandangan dari tingkat atas di depan kelas, saya melihat mobil dan kendaraan mulus menanti anak Al Azhar untuk dijemput. 
Dan ada moment langka yang menarik disaat anak-anak Al Azhar menemukan anak kucing kecil yang lucu dan menggemaskan. Mereka terlihat antusias memperdulikan kucing tersebut. Sampai ada yang membelikan susu untuk memberi makanan kepada bayi kucing tersebut. Mereka saling berebut untuk memegang kucing itu, dan mereka memamerkannya dihadapan saya. Inilah moment yang pastinya akan terkenang dalam hati saya.
 
Perpisahan mendadak yang tidak saya duga begitu saja datang, dan waktunya pun tepat ketika yang menghadiri ekskul hanya 2 orang anak yang setia dan antusias untuk melukis, untuk kenang-kenangan terakhir pun saya meminta mereka untuk berfoto bersama karya mereka yang belum sempat terselesaikan di hari terakhir. Kita pun berpisah di lorong gedung ketika sama-sama berjalan menuju jalan keluar untuk pulang.
Terimakasih banyak teman-teman kecil, adik-adik saya yang luar biasa. Jadikanlah melukis sebuah media kalian untuk mengungkapkan isi hati. Dan jadikanlah berkesenian untuk mengolah perasaan agar menjadi peka. Gunakanlah perasaan untuk memupuk hati menjadi hati yang ramah, hati yang selalu peduli terhadap siapapun. Dengan mengasah perasaan kita akan menemukan kedewasaan. Semoga apa yang pernah kita lakukan bersama menjadi sebuah pembelajaran yang bisa kita ambil positifnya. 
Saya pasti akan selalu merindukan kalian semua, yang sedikit, tapi yang bermakna lebih banyak. Karena tawa kalian, semangat kalian, dan kritis kalian adalah cerita yang membekas dan terlukis indah pada kanvas yang berupa waktu. Terimakasih salam rindu untuk kalian selalu, dan juga terimakasih kepada Ibu Cahya yang telah banyak membantu dan mendampingi saya mengajar anak-anak, sukses selalu serta SEMANGAT :)

Dan akhirnya ada awal pastilah ada akhir, saya tidak lupa menghaturkan banyak terimakasih dan memohon maaf apabila selama saya mengajar ada yang tidak berkenan baik khilaf ataupun tidak. TERIMAKASIH...

Beberapa hasil karya anak-anak Al Azhar yang sempat diabadikan




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JAM BERAPA?