WAKTU
Setelah fakum beberapa tahun akhirnya mengisi kembali blog ini dengan cerita baru. Dengan berbagai perkembangan zaman seiring waktu banyak hal yang terlewatkan untuk diceritakan. Dengan perkembangan AI (Artificial Intelegen) dan sebagainya yang menguras energi sekaligus jiwa. Banyak cerita yang tidak saya ceritakan di blog ini karena fakum beberapa tahun. Akhirnya sekarang iseng-iseng searching nama sendiri ternyata mengarahkan ke blog ini. Mungkin karena banyak yang belum sempat saya ceritakan, saya ceritakan beberapa hal saja yang masih saya ingat selama saya fakum, saya rangkum dengan judul "Waktu"
"Daun yang jatuh sekalipun saya harus tahu"
Tahun awal saya mengabdikan diri untuk negara sebagai seorang guru seni budaya di cerita sebelumnya sudah pernah saya ceritakan tentang saya menyabang di beberapa sekolah lebih tepatnya madrasah untuk memenuhi kekurangan jam kerja. Di awal-awal sebagai guru ini pengalaman hidup pertama saya bahwa saya menyabang di 3 sekolah yang berbeda untuk mengabdikan hidup saya. Tentu banyak pembelajaran yang mampu saya petik dari pengalaman yang telah saya lalui ini. Petikan kata di atas adalah sebuah kata yang saya dapati dari seorang pemimpin yang cukup membuat mental dan jiwa saya terguncang pada saat itu. Dari segala tingkah-laku, cara saya berpenampilan di kritik habis-habisan. Bahkan menurut saya melampaui batas meski hanya melalui hegemoni kekuasaan dalam bentuk verbal atau ancaman. Saya masih ingat di sebuah ruangan saya di intimidasi, kata-kata yang masih segar di ingatan adalah ketika mereka menuduh saya yang tidak saya lakukan dan menghakimi saya sebagai orang dengan tata krama yang buruk, kompetensi yang buruk. Hancur hati saya ketika itu bukan karena hinaan atau intimidasi mereka, tapi lebih kepada saya kemudian banyak menyalahkan diri dan justru timbul rasa haru kepada Tuhan "ternyata orang seburuk saya ini masih Tuhan berikan banyak kesempatan-kesempatan baik dengan pekerjaan saya, orang-orang yang saya temui," dengan berlinang airmata dikarenakan saya tidak sanggup menahan rasa yang carut-marut. Yang bikin benar-benar hancur adalah ketika saya berpikir positif ternyata itu berbalik kepada saya bahwa pikiran saya itu semua keliru, melihat kenyataan itu tentu rasa amarah, kecewa, dan tidak terima itu muncul. Namun singkat cerita seiring waktu, waktulah yang menjawab segalanya. Yang kemudian sekarang saya bisa memetik hikmahnya. Apa yang kita kagumi tentang seseorang itu tidak semengagumkan itu, mungkin Tuhan menunjukkan itu dengan cara-Nya. Sampai kejadian demi kejadian pun seolah mendunia, dari kejadian anak pejabat yang arogan, dari pejabat yang koruptor dari ahli agama yang justru jauh dari ajaran agamanya bahkan tentang Rafah dan sebagainya yang ranahnya vertikal hanya Tuhan saja yang berhak menilai, sedangkan kita sebagai korban hanya bisa menyebutnya penjahat.
Seolah melalui alamnya Tuhan ingin menyentuh saya dengan kebetulan-kebetulan yang Ia sampaikan dalam kehidupan saya, lambat laun apa yang hanya saya simpan dalam hati ternyata terkadang itu menjadi sebuah doa yang tidak pernah terucap, saya dipertemukan dengan mereka (orang yang pernah sebegitu kejam mengintimidasi dengan hegemoni kekuasaannya) tanpa sengaja, seolah yang saya tangkap Tuhan ingin mengobati hati saya yang luka diakibatkan mereka dengan cara menunjukkan bahwa mereka hanya manusia sama seperti saya tidak perlu takut lagi, atau terlalu kagum lagi dengan jabatan, kekayaan, kekuasaan mereka yang terkadang tidak sesuai harapan kita. Dimana terkadang kita berpikir bahwa orang sholeh itu pasti meneduhkan hati atau penampilan itu menunjukkan karakter orang tersebut, itu belum tentu benar, itulah makanya tugas saya cukup mempelajari mengambil hikmah dari manusia-manusia yang perannya sebagai seorang munafik, dan ternyata munafik hanya Tuhan saja yang boleh menghukum karena kemunafikan tidak bersifat empiris kalau menurut teman saya yang ilmunya menambah wawasan saya. Mungkin itu cerita baru di tahun ini, semoga kedepan ada cerita indah lagi yang perlu untuk dinikmati. Sukses untuk siapapun peranmu. Saya turut bahagia ketika ternyata bukan kita yang mengorbankan untuk dzolim tapi kita yang di korbankan untuk di dzolimi itu lebih menarik dan menantang. Tidak akan saya terpukau denganmu karena kejadian ini. Terima kasih Allah.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar