EKSKUL
YANG BERAKHIR
Dengan penuh
keyakinan saya selalu mengawali segala langkah kaki dengan sikap optimis dan
sebisa mungkin menghilangkan pamrih dan keterpaksaan untuk melakukan pekerjaan
yang buat saya adalah merupakan pengasahan perasaan kita sebagai seorang
manusia. Di tempat ini, Al Azhar yang merupakan sekolah SMP yang berasaskan
ISLAM dan sedang dalam proses berkembang saya mengajarkan bagaimana memahami seni
khususnya melukis menjadi sebuah alternatif untuk mengungkapkan perasaan
melalui jalur yang terarah dan santun. Bersama anak-anak yang tidak terlalu
banyak hanya 6 orang itu pun ada yang harus keluar atau tidak bisa mengkuti
kegiatan ekskul melukis dengan nyaman karena harus ijin dan sebagainya.
Terlepas dari semua yang terjadi saya merasa cukup bahagia dapat memberikan
sedikit saja yang saya punya kepada mereka, yaitu belajar bersama untuk mengungkapkan
isi hati melalui media lukis dangan tetap menjunjung kesantunan hati, keramahan
bertindak, dan tidak adanya keterpaksaan.
Dengan sambutan
awal yang friendly, ramah dan lugunya
anak-anak SMP, Saya merasa seperti diperlakukan dengan menyenangkan, dan memang
cukup menyenangkan. Merupakan rutinitas yang selalu membuat hati rindu jika
mengingat moment tersebut kini telah tiada.
Begitu saya masuk
di dalam kelas saya harus menanti kedatangan mereka (anak-anak SMP Al Azhar).
Sembari menantikan mereka siap untuk belajar bersama-sama saya selalu
menyempatkan untuk memandangi setiap sisi dari tempat saya mengajar ini. Di
balik jendela kelas saya melihat pemandangan kota yang sedang dibagun dengan
tinggi dan bertingkat. Dan setiap kali saya datang perubahan itu terlihat
jelas. Disana saya melihat kehidupan, melihat perubahan yang mengajarkan saya
bahwa hidup ini adalah proses, proses yang melahirkan perubahan-perubahan
didalamnya.
Tidak kalah
menariknya pemandangan dari tingkat atas di depan kelas, saya melihat mobil dan
kendaraan mulus menanti anak Al Azhar untuk dijemput.
Dan ada moment
langka yang menarik disaat anak-anak Al Azhar menemukan anak kucing kecil yang
lucu dan menggemaskan. Mereka terlihat antusias memperdulikan kucing tersebut.
Sampai ada yang membelikan susu untuk memberi makanan kepada bayi kucing
tersebut. Mereka saling berebut untuk memegang kucing itu, dan mereka
memamerkannya dihadapan saya. Inilah moment yang pastinya akan terkenang dalam hati
saya.
Perpisahan mendadak
yang tidak saya duga begitu saja datang, dan waktunya pun tepat ketika yang
menghadiri ekskul hanya 2 orang anak yang setia dan antusias untuk melukis,
untuk kenang-kenangan terakhir pun saya meminta mereka untuk berfoto bersama
karya mereka yang belum sempat terselesaikan di hari terakhir. Kita pun
berpisah di lorong gedung ketika sama-sama berjalan menuju jalan keluar untuk
pulang.
Terimakasih banyak
teman-teman kecil, adik-adik saya yang luar biasa. Jadikanlah melukis sebuah
media kalian untuk mengungkapkan isi hati. Dan jadikanlah berkesenian untuk
mengolah perasaan agar menjadi peka. Gunakanlah perasaan untuk memupuk hati
menjadi hati yang ramah, hati yang selalu peduli terhadap siapapun. Dengan
mengasah perasaan kita akan menemukan kedewasaan. Semoga apa yang pernah kita lakukan
bersama menjadi sebuah pembelajaran yang bisa kita ambil positifnya.
Saya pasti akan
selalu merindukan kalian semua, yang sedikit, tapi yang bermakna lebih banyak. Karena
tawa kalian, semangat kalian, dan kritis kalian adalah cerita yang membekas dan
terlukis indah pada kanvas yang berupa waktu. Terimakasih salam rindu untuk
kalian selalu, dan juga terimakasih kepada Ibu Cahya yang telah banyak membantu dan mendampingi saya mengajar anak-anak, sukses selalu serta SEMANGAT :)
Dan akhirnya ada awal pastilah ada akhir, saya tidak lupa menghaturkan banyak terimakasih dan memohon maaf apabila selama saya mengajar ada yang tidak berkenan baik khilaf ataupun tidak. TERIMAKASIH...
Dan akhirnya ada awal pastilah ada akhir, saya tidak lupa menghaturkan banyak terimakasih dan memohon maaf apabila selama saya mengajar ada yang tidak berkenan baik khilaf ataupun tidak. TERIMAKASIH...
Beberapa hasil
karya anak-anak Al Azhar yang sempat diabadikan

























