Laman

Ikhsan Hargo Kusumo

Minggu, 12 Oktober 2014

MELIHAT, MENDENGAR, MERASA



MELIHAT, MENDENGAR, MERASA
(Dewasa)

Akhir musim kemarau panjang ini, merupakan awal hujan yang sangat dinantikan. Telah banyak kisah hidup ini, baik-buruk sudah dilalui dengan berbagai cerita dibalik maknanya. 

Ibarat menyaksikan sebuah pergelaran drama Dari Tuhan, hal itulah yang akan saya ceritakan. Menyaksikan opera kehidupan yang tersaji sempurna dalam frame kacamata hati bagi rasa, mata mengamati, dan dengan telinga menyimak.

Pertama, saya menyaksikan kisah dari kehidupan seorang teman dari keluarganya. Seperti paradox kehidupan itulah yang saya maknai dari kisahnya ini. Dalam keluarganya yang kental sekali akan ajaran agama yang taat, dibuktikan dengan pendidikan berbasis agama yang dikenyam oleh anak-anak dari keluarga ini. Bahkan ayahnnya merupakan pengutbah rohani di mimbar. Tiba-tiba salah satu anak dari keluarga tersebut menyimpang dari aturan yang sudah terbentuk kental akan agama yang mereka pegang teguh. Anak tersebut “menghamili” sebelum menikah. Sontak tak percaya tapi nyata. Lahirlah anak kecil tanpa dosa dari buah perbuatan haram dari orangtuanya. Tanpa bermaksud “sok suci” saya hanya berusaha menyampaikan dengan gaya saya.

Setelah kejadian tersebut banyak perubahan yang saya rasakan dari keluarga ini khususnya teman saya tersebut. Mereka terasa lebih dingin tak seramah dahulu kala. Hal ini membuat hati saya terenyuh, segala upaya yang bisa saya lakukan seolah tak membuat pandangan mereka, seolah terusik, terganggu dan merubah pandangan saya bahwa mungkin itulah sikap mereka. Saya pun tak akan ikut campur. Tapi jujur saya ada sedikit merasa iba sekaligus sangat disayangkan tak seharusnya mereka harus merubah sikap mereka. Tapi inilah salah satu bentuk cerita Dari Tuhan yang saya hanya bisa menyaksikan dengan bijak "idealnya".

Cerita selanjutnya tentang seorang anak manusia lugu, nalar, dan cerdas dengan kisah cintanya yang memilukan. Ia datang dari jauh-jauh Jakarta ke Jogjakarta. Ia berangkat menggunakan kereta  hanya berbekal hati dan jiwanya yang besar. Ia akan menemui mantan kekasihnya kala berkuliah di Jogjakarta, hingga kini ia tetap setia dengan kelajangannya karna baginya hanya mantan kekasihnyalah yang pertama dan masih yang pertama hingga kini, -entah kedepan- yang pasti ia meyakini jodoh sudah ada Yang Mengatur, -jodoh tak lari kemana-. Sebenarnya apa yang ia cari, yang ia kunjungi sehingga ia sedari pagi buta menyempatkan datang ke Jogjakarta?... adalah menghadiri undangan pernikahan sang mantan kekasihnya. Bayangkan bagaimana seharusnya perasaannya. Namun di luar sangkaan kita ia terlihat tegar dan semangat tanpa ada raut kesedihan. Inilah Kisah Drama Yang Tuhan tunjukkan kepada saya.

Dan yang terakhir kisah tentang orang-orang beruntung yang bahagia dikaruniai rezeki halal dan cukup, suami dan istri yang penyayang, dan anak-anak yang sholeh dan sholehah, mereka sederhana dalam kekayaan yang Dipercayakan kepada mereka, mereka ramah dan santun dalam kehormatannya, mereka berjuang dan gigih dalam cita dan asa, mereka bekerja keras penuh tanggung jawab dalam kepemimpinannya.

Merekalah semua teman-teman, saudara dan orang-orang yang menjadi manusia yang memahami bahwa segala kehidupan cerita dalam kehidupan ini, entah dalam bentuk baik dan buruk dalam pandangan manusia. Mereka menerima dengan tetap berusaha memperbaiki diri tanpa berhenti. Sebab ujian, cobaan Yang Tuhan titipkan bukan untuk kita keluhkan, bukan untuk kita dendamkan. Dalam dualisme ujian Tuhan melihatkan kepada kita tentang sandiwara kehidupan. Ada yang di uji dalam bentuk kebahagiaan, ada pula yang di uji dalam bentuk kesedihan. Kesemuanya bermuara pada satu sumber. Ingatkah kita akan Kasih, Sayang-Nya?... Ia lah Yang Maha Besar, Maha Kasih, dan Maha SEGALANYA.



Rabu, 17 September 2014

MEMOAR YANG TERKENANG BERSAMA KOL TUYUL


Bulan September tanggal 18 tahun 2014 ini Jogjakarta terasa panas dan gersang, dan benar saja memang sudah dibelahan bagian daerah Jogja ada yang mengalami kekeringan dan krisis air. Menurut berita yang saya dengar baik lewat radio maupun pembicaraan diantara keluarga memang betul disebagian daerah Jogja seperti Gunung Kidul, Kulonprogo mengalami kesusahan mendapatkan air bersih disebabkan sumur-sumur mereka kering (asat) di tahun ini. Betapa bisa kita rasakan gersangnya bulan ini di Jogjakarta kita tercinta. Lebih dilematis lagi dimusim kemarau yang panas dan kering berdebu ditambah susah memperoleh air, di beberapa daerah di Jogja, lebih tepatnya di Gunung Kidul warga rela membeli 1 tangki air dengan harga 100ribu rupiah dengan cara menjual gaplek (singkong yang dikeringkan, merupakan makanan pokok seperti pengganti beras di Gunung Kidul). Sebanyak 1 kwintal bahkan diberita radio disebutkan ada yang sampai mau jual ternak kambing untuk membeli air, ya kita hanya bisa berharap semoga musim segera berganti, hujan segera turun membasahi bumi sekaligus jiwa-jiwa yang gersang yang haus akan keteduhan.

Sudah panas terasa komplit ketika berhadapan langsung dengan jalan menuju pusat-pusat kota Jogjakarta. Apakah itu? Ya, kepadatan lalu lintas, polusi, dan tentu saja bergelut emosi dalam diri dan kita tau itu sempat terekspos dengan tragedi mahasiswi berpendidikan tinggi yang ternyata emosinya tak selaras dengan edukasinya. Gara-garanya antri bensin langka, ketika itu pertamina membatasi pasokan BBM yang dilanda hampir di seluruh Indonesia tak terkecuali Jogja…. Ada-ada saja wanita komedi ini yang sempat mematik kehebohan dunia maya sosial bahkan merembet ke ranah yang lebih luas yaitu buah bibir dan pemerintah Jogja. Benar-benar heboh waktu itu. Betapa tidak, ketika itu saya sendiri juga mengalami hal serupa yaitu antri bensin di salah satu POM bensin yang tak jauh dari POM bensin TKP, saya di Jakal km 5 dan TKP di POM Lempuyangan. Mungkin mahasiswi terdidik yang bahkan jurusan sadar hukum ini tak perlu mengantri lama-lama karena itu hanya menyita waktunya, tapi saya antri dari jam 9 pagi sampai jam 2 siang waktu itu, saya juga menjumpai kisah-kisah unik ketika mengantri. Ada ibu hamil 8 bulan yang dengan anggun, tertip dan ramah ikut mengantri. Ia gagal memeriksakan kandungannya ke Puskesmas disebabkan motor yang ia kendarai habis bensin. Ada juga mahasiswi yang rela bolos kuliah, ada juga mahasiswi yang secara kebetulan bertemu dosennya sama-sama mengantri, ada juga yang dengan penuh kepercayaan diri rela untuk menitipkan motor, uang, dan kunci motor karena mau ditinggal cari makan khawatir disaat ditinggal mencari makan bensinnya sudah tiba. Ada juga 2 orang lelaki remaja heboh entah saudara, teman, atau apa, sangat atraktif dan penuh gaya ala-ala alay tak henti-hentinya berdecak tawa meriah, tak  ketinggalan karyawan POM bensinnya juga tak kalah berpartisipasi dalam kemajuan zaman dengan sesekali terlihat mengabadikan momen antrian ketika itu dengan smartphonenya, dan masih banyak lagi.

Memang betul terkadang tuntutan zaman dan tuntutan social membuat hal yang sebenarnya sederhana itu dirasa dilematis, sulit dan komplikasi. Contoh kita bisa fokus saja pada satu “TRANSPORTASI”. Anak sekolah yang sejatinya belum berhak mengendarai motor harus berangkat ke sekolah menggunakan motor dengan berbagai alas an dan pertimbangan yang jika didengar masuk akal sekaligus dilematis. Bahkan seperti saya saja contohnya, mengkritisi soal kendaraan motor dan mobil, saya sendiri saja memakainya, kan gitu. Betapa lengkap sudah bukan? Komplikasi dan dilematisnya.

Lanjut. Keadaan seperti itu kemudian mengulik memori kenangan masa lalu yang kalau dibandingkan dengan sekarang masa itu lebih adem bawaannya. Hal itu kemudian mengulik perasaan rindu di dalam hati saya atau malah bahkan mungkin ada yang serasa dengan saya.
Tepatnya kurang lebih ditahun 2002-an sampai sebelum itu dan masih sampai 2004-an akhir mungkin kita tak menjumpai hal serupa pada masa itu di Jogja sekarang. Namanya adalah kami menyebutnya kol kuning, bis tuyul, atau kol tuyul. Dia merupakan sahabat paling lucu dan sangat membantu sekali perjalanan kami ketika itu, karena dia merupakan alat transportasi umum yang beroperasi sampai pelosok-pelosok dusun yang ada jalan aspalnya yang merupakan jalur rute si bis tuyul ini.
Dulu ketika libur ingin jalan-jalan refreshing menjelajah Jogja cukup dengan bangun pagi, siap-siap sudah mandi, sarapan, bawa bekal, dan uang saku sekedarnya nunggu di depan rumah di pinggir jalan, nunggu siapa?... Nunggu si bis tuyul yang warnanya kuning dan ada nomornya atau angka di kaca depannya. Untuk ke Prambanan cukup pakai dua rute atau satu kali ganti bis tuyul. Begitupun jika ingin ke Malioboro, Gembiraloka, Monjali (Monumen Jogja Kembali) dll. Bedanya mungkin kalau sudah sampai tujuan kota seperti Malioboro sekitarnya nanti disambung dengan bus yang besar. Jadi tugas bis tuyul ini hanya di rute-rute pedesaan dusun mengitari pelosok-pelosok untuk mengajak ke sekolah, ke pasar, dan jalan-jalan ke kota dengan pergantian ke bus yang lebih gede ukurannya.

Itulah kenangan bersama bis tuyul, mengingatnya membuat rasa ingin kembali kemasa itu. Tapi sayang masa itu terlewati begitu saja dengan singkat. Padahal banyak hal positif yang kalau ditinjau dengan fenomena transportasi saat ini, bis tuyul bisa menjadikan alternative solusi kepadatan dan polusi yang diakibatkan oleh banyaknya kendaraan bermotor dan mobil yang semakin berlimpah. Ya, kita hanya bisa berharap semoga pemerintah terkait dan masyarakatnya sendiri peka dan saling memberikan solusi terbaik yang tepat untuk Jogjakarta tercinta kita ini. Amin. Be positif thinking
Kembali ke si lucu kol tuyul, ketika itu saya untungnya sempat menikmati berteman akrap dengan kol tuyul meski kita hanya berteman akrab cukup singkat. Diwaktu SMP saya sempat pulang sekolah bersama kol tuyul hanya dengan seribu rupiah dengan uang receh koin sudah diantarkan sampai rumah dengan aman, nyaman. Menjelang Mts dan SMA akhirnya kol tuyul tiada hingga kini belum ada yang bisa menggantikannya, meski TransJogja lahir beberapa tahun kemudian namun sayang hanya kalangan dekat kota dan jalan raya saja yang mampu menikmatinya.
Kini di dusun-dusun justru muncul trend “CINTA PANTAT BERASAB”. Dimana orang-orang tertentu yang justru biasanya kalangan ekonomi minim berlomba-lomba beli atau kredit motor demi menggaet cinta. Yang tak mampu memperoleh motor cukup jual diri demi gengsi, keadaan mereka yang mempunyai selera hidup tertentu, menuntut mereka menggaet/mencari/memburu pasangan idamannya yang punya motor hanya demi kilau sang motor yang membelalak pandangan mereka. Pada akhirnya di dusun polusi suara motor menjadi hidangan sehari-hari bahkan melunturkan suara alam dari pepohonan, burung, dan udara pedesaan yang teduh lagi tenang.
Itulah sekelumit kenanganku bersama kol tuyul si mobil mungil berwarna kuning yang setia menjemput penumpang-penumpang menuju tempat tujuan diwaktu itu. Mungkinkah kol tuyul dapat hidup kembali?

Minggu, 06 April 2014

Telepati



Telepati
(untuk dewasa)
Kita mengetahui maksud yang ingin orang sampaikan salah satu bentuknya adalah komunikasi. Kita berbicara, berdialog menyampaikan apa yang ingin kita sampaikan kepada seseorang. Lalu bagaimanakah jika orang tersebut menyimpannya di dalam hati saja?

Percaya atau tidak jika kita memurnikan hati kita, kita dapat merasakan maksud dari orang lain terhadap kita tanpa ia harus mengutarakannya dalam sebentuk kata-kata yang di lontarkan secara nyata dalam bentuk bahasa komunikasi verbal.

Secara tak sengaja terkadang orang mengutarakan maksud hatinya melalui bentuk-bentuk lain selain bahasa lisan. Misal ia memberikan perhatian yang begitu tulus terhadap kita, memberikan suatu benda, tersenyum, marah, keangkuhan, diam, salah tingkah, ekspresi, sikap, tatapan dan masih banyak lagi. Namun terkadang kita keliru mengartikan maksud ketika ia tak pernah mengatakan maksudnya secara langsung. Makannya ada ijab kabul dalam pernikahan, ada tawar menawar dan ketetapan dalam berdagang supaya jelas maksud dan tujuan.

Nah, tak semua orang peka untuk memahami maksud dari seseorang bahkan seorang pasang jodoh yang Tuhan jodohkan saja yang jelas satu hati satu jiwa masih perlu pemahaman, klarifikasi untuk menyampaikan maksud. Disinilah seninya makna bahasa telepati, kita bicara dari hati, dari hati yang saling terkoneksi dan saya merasakan itu. Meski terkadang saya ragu meyakini maksud itu, tapi saya sadar maksudnya demikian.

Jadi cukuplah kita berbahasa telepati untuk menjaga hati kita yang sama-sama ragu tentang maksud yang sesungguhnya sudah jelas.

Dimana letak keadilan?



Dimana letak keadilan?
(untuk dewasa)
Setelah beberapa bulan buntu alfa dari blog akhirnya untuk yang pertama setelah hengkang mengisi kembali blog ini dengan cerita atau lebih tepatnya suara hati. Setelah mengalami berbagai kejadian, persoalan, dan berbagai pengalaman yang rasanya stag berhenti dari sebuah perubahan yang signifikan akhirnya dari sekian kebingungan yang melanda, inilah cerita dari saya, dari pemikiran saya, dari perasaan saya. 

Setiap orang, setiap pemikiran, setiap manusia dan setiap individu ia punya pandangannya masing-masing dalam melihat, menilai, memahami, mengapresiasi, menyikapi. Saya tidak akan membahasnya apakah itu hak, keyakinan, prinsip dan semacamnya, saya disini hanya ingin mendeklamasikan apa yang ingin saya utarakan itu saja tidak kurang, tidak lebih. 

Setiap kehidupan orang melihat dari berbagai sisi, seperti apapun sisi itu lagi-lagi saya tidak akan memberikan penilaian tentang itu. Saya hanya menekankan bahwa dalam tulisan ini sekali lagi saya hanya ingin berbicara dari sisi saya, yang tentu saja saya tidak harus menghendaki hal ini sesuai dengan apa yang saya sampaikan. Karena letaknya ada di setiap tangan masing-masing penilaian.

Tak ada keadilan yang sejati di dunia ini, inilah dunia. Ketika kita lemah maka dunia memandang kita salah karena kita haruslah kuat. Ketika kita menjadi kuat maka dunia menilai kita janganlah terlalu kuat. Ketika kita sedang-sedang saja maka dunia melihat kita biasa-biasa saja. Itulah keadilan dunia yang ukurannya tak jelas.

Ada pengecualian tentang keadilan adalah kita dibekali nalar dan hak di situlah kita mencari keadilan, memperjuangkan keadilan, dan menuntut keadilan. Karena setiap kita berhak diperlakukan dengan adil.

Zaman perbudakan sudah punah itu menandakan kita sudah merdeka dari penindasan yang artinya kita berhak diperlakukan dengan adil. Namun pada kenyataan perbudakan berevolusi menjadi perbudakan versi baru yang beragam dan bervariasi. 

Jadi, keadilan? Tak ada keadilan di dunia ini. Di dunia ini hanya mengenal keadilan dalam versinya sendiri. Namun alangkah lebih baik adilah terhadap diri kita sendiri untuk bersikap adil dalam mencari keadilan, dan yang paling krusial adalah jangan bersikap tak adil terhadap orang lain dengan alasan apapun, karena itu merupakan ketidakadilan yang tak seadil-adilnya.




Kamis, 28 November 2013

MEREKA YANG TELAH TIADA

MEREKA YANG TELAH TIADA
Pernah ditinggalkan oleh orang-orang yang mendahului kita di dunia?, saya yakin itu bukanlah pertanyaan yang perlu dijawab, karena setiap kita yang lahir di dunia ini sudah tentu ada pula yang meninggalkan dunia ini. Entah ada angin apa tiba-tiba saya ingin sedikit bercerita tentang mereka yang pernah ada di dunia dan meninggalkan dunia dengan meninggalkan kenangan dalam cerita kehidupan saya :). Terlepas bagaimana mereka hidup setelah meninggal semua adalah rahasia Tuhan. Saya hanya akan bercerita mengenai kenangan-kenangan manis yang berkesan dari mereka. Kebetulan dari ingatan yang tersimpan dalam kenangan saya adalah kenangan mereka yang sudah berusia lanjut.

Cerita pertama ialah kenangan bersama mbah buyut. Saya memanggilnya mbah ketirjo, karena ia tinggal di dusun ketirjo, sampai saya tidak tahu nama aslinya. Dulu sejak SD saya sering jalan-jalan atau naik sepeda mengelilingi dusun-dusun dan sawah-sawah. Saya punya kegemaran bertandang kerumah orang-orang yang saya kenal untuk bermain dan hanya mencari hal-hal yang berkaitan dengan petualangan. Ya maklum saya dibesarkan di hutan, tepatnya di Kalimantan yang memang masih banyak hutan belantara. Setiapkali saya bertandang saya selalu diceritakan tentang zaman penjajahan, tentang penjajah belanda, penjajah jepang dan tentang PKI. Saya masih ingat ketika mbah buyut bercerita mengenai perang dunia. Ia bercerita bahwa ia harus bersembunyi di bawah tanah yang dilubangi cukup dalam seperti liang lahat kemudian ditutupi jerami. Setiap ada pesawat di langit lewat semua orang bersembunyi di lubang itu. Jika tidak bersembunyi maka akan terkena tembakkan dari penjajah. Tapi sayangnya ceritanya kurang spesifik. Setiapkali saya tanyakan siapa penjajah itu, ia menjawab “londo, jepang, PKI”. Setiap minggu saya rutin berkunjung untuk mendengarkan cerita-cerita yang menarik perhatian saya. Dan terakhir saya berkunjung ialah ketika mbah buyut kakung memberikan tempat biasanya dia merokok yang terbuat dari kuningan di dalamnya ada uang-uang kuno dan uang Belanda-Indonesia yang biasa dipakai untuk kerokkan. Beberapa hari kemudian ia meninggal. Mbah buyut yang putri ia pindah ketempat anaknya. Dan rumah itu tak berpenghuni hingga kini. Selang beberapa tahun mbah buyut yang putri pun meninggal. Hingga kini setiap tahun saya mengunjungi nisannya terutama disaat seusai Sholat idulfitri.

Berlanjut ke cerita yang lain. Namanya pak Saimin. Ia adalah guru ketika saya SD di Yogyakarta, tepatnya kelas 3 SD. Pak Saimin adalah guru yang rajin dan pandai menggambar. Ia berbeda dari guru-guru kebanyakan atau guru lain di sekolah saya. Ia mengajar dengan caranya sendiri. Ia tidak bisa berbicara jelas, bahkan memang tidak jelas. Suaranya tidak bisa dimengerti. Sesekali ia selalu membersihkan bibirnya dengan sapu tangan yang selalu ia bawa, karena ia selalu batuk. Biarpun demikian kami (seluruh siswa) tetap meyimak apa yang disampaikan oleh pak Saimin. Kadang saya merasa kasihan, sudah sakit seperti itu masih saja ia rajin untuk mengajar. Karena kondisinya setiap kali masuk kelas ia langsung menggambar, ia pernah menggambar sapi, gajah dan rusa. Ia juga pandai menulis huruf jawa. Setelah itu ia meninggal dunia. Yang membuat saya masih mengingat pak Saimin adalah karena ia gigih, tidak peduli di olok-olok oleh guru lain bahkan oleh sebagian siswa, ia menunaikan kewajibannya penuh tanggungjawab sesuai kemampuannya dengan caranya. Mungkin kalau sekarang ada guru seperti ia, maka sudah dipensiun dini. Tapi pak Saimin tidak, ia mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengajar sebagai seorang guru.

Sebenarnya masih banyak kenangan yang mereka (orang yang mendahului kita) tinggalkan, tapi karena saya hanya ingin sedikit saja bercerita, jadi sedikit saja yang dapat saya ceritakan dari cerita yang sebenarnya lebih panjang dan banyak lagi yang lain. Nah lalu saya berfikir bagaimana dengan kita ya?.... sudahkah kita menyiapkan kenangan yang mungkin mereka (orang yang kita dahului kelak/nanti) kenang dengan kenangan yang manis?....

Saya banyak belajar dari mereka, mereka yang sudah tua, atau meraka yang sudah mendahului kita. Mereka tidak pernah tahu kapan mereka berpulang, yang mereka tahu adalah mereka mengasihi antara sesamanya. Dari kasih sayang itulah lahir yang namanya kenangan manis. Dari kenangan manis itulah kita belajar mengasihi. Dari kenangan manis yang mereka tinggalkan itulah kita mengenal Tuhan

Kenangan itu tidak diciptakan, tapi kenangan itu lahir dari perbuatan kita, kasih sayang kita. Kita harus berjuang, kita harus bekerja keras, dan kita tetap harus saling mengasihi :)


Minggu, 01 September 2013

Itu Hanya Perasaanmu Saja


Itu Hanya Perasaanmu Saja
(Untuk Dewasa)
Mencintai bukanlah sebuah dosa, itu yang saya pahami. Cinta sangatlah universal, tidak semata bagaimana kita mencintai terhadap apa yang ingin kita miliki. Tapi bukan berarti ketika kita bersikap baik terhadap seseorang lantas dia boleh seenaknya dengan mudah mengasumsikan bahwa ia teristimewa, sehingga membuatnya tinggi hati. Saya menangkap dari beberapa yang saya alami, meski hal tersebut tidaklah dikatakan, tapi yang jelas sikap dan tindakan mereka keliru. Dizaman sekarang yang membingungkan antara apakah kiamat sudah dekat ataukah kiamat itu sedang terjadi, mustahil kita bisa menutup mata dengan kebebasan sekaligus pencerahan yang menebar ke segala penjuru bumi. Sampai-sampai alam fikiran juga tidak luput dari pengaruh zaman.

Dalam suatu kondisi dan waktu saat perasaan yang biasa dan memang standar tidak ada maksud hati lebih untuk menyukai atau sampai ingin memiliki seseorang, karena mereka hanya seperti teman, adik, saudara dan hanya sebatas itu. Saya sudah terbiasa bersikap yang barangkali terlalu ramah dan formal terhadap seorang wanita.

SEPERTI SEPENGGAL KISAH BERIKUT
  • Dalam sebuah facebook ada seorang teman SMA, seorang wanita yang nge”add” facebook saya. Kebetulan saya benar-benar lupa terhadap orang ini, ya maklum saya sekolah SMA di kalimantan hanya enam bulan alias satu semester saja, dan baru setelah bertahun-tahun ia tiba-tiba nge”add facebook” saya. Ya ia adalah kawan SMA di kalimantan dulu. Kebetulan dalam satu kelas dulu kita sama-sama orang jogja dan kita tidak terlalu dekat sebatas teman kelas tidak lebih. Ketika saya meminta untuk dibantu mengingat dengan benar tentang siapa dia, akhirnya berhasil saya diingatkan olehnya. Saya tentu saja sangat apresiatif, dan dengan basa-basi saya menawarkan ia untuk kapan-kapan ke jogja, main-main kerumah. Secara tidak terduga tanggapannya saya pikir hiperbola, ia malah mengutarakan kurang lebihnya seperti ini “maaf kamu terlambat saya sudah punya keluarga, anak, dan suami”. Dalam hati saya “terus apa kaitannya?”. Ternyata ia menanggapi terlalu memakai fikrannya sendiri. Saya hanya ingin tertawa “unik”. Ternyata mereka membuat imajinasi mereka sendiri. Mungkin dengan begitu ia merasa teristimewa, tapi ya selama ia bahagia bukan masalah. Mungkin itulah fikiran sebagian wanita yang tidak saya mengerti.

  • Kemudian dalam sebuah kebetulan ketika saya opname di rumah sakit tiba-tiba saya mendapat kejutan, kawan-kawan MTS yang sudah sangat lama sekali, datang menjenguk saya. Tentu saja saya merasa senang. Kemudian saya harus berfikir dalam lagi untuk mengingat nostalgia lama yang tersimpan di bawah fikiran. Biasalah kalau reuni pastilah yang dibicarakan kebiasaan-kebiasaan dulu sekolah, guru-guru dan semacamnya. Tapi sayangnya dulu waktu MTS saya tidaklah begitu populer saya hanya siswa kuper yang sedikit teman dan otomatis sedikit cerita, jadi banyak yang “miss” disaat mereka membicarakan masalah nostalgia MTS ini.
Saya memiliki kekurangan salah satunya terlambat dalam menemukan ingatan, namun sekali ingat langsung sampai ke detil-detilnya bisa saya ceritakan, itulah kekurangan saya. Begitu saya ingat, saat itu pula saya begitu antusias terhadap salah seorang diantara empat teman yang menjenguk saya di rumah sakit tersebut, kebetulan ia satu-satunya perempuan. Saya menceritakan kalau kita dulu pernah dekat sebagai teman, sampai segala pembicaraan anak puber waktu itu kita ceritakan blak-blakan. Saya hubungi ia lewat SMS segala rahasia yang ternyata ia sudah melupakannya, sedangkan saya sangat mengingatnya. Lagi-lagi saya dengan jelas tidak menyimpan perasaan apapun. Seperti biasa mungkin ia berfikir saya ada perasaan terhadapnya, mungkin merupakan alasan yang tepat ia mengira demikian, sebab memang saya “jomblo” bahasa zaman sekarangnya. Tidak berapa lama saya di undang dalam acara ulang tahunnya, saya pun merasa senang. Sesampai disana saya langsung disambut dengan baik, kita saling menyapa diantara semua undangan yang datang. Dan saya pun diajaknya berfoto berdua, saya pun dengan senang hati, karena ia memang seperti sahabat dikala MTS ia bisa dekat terhadap siapa saja, bahkan orang kuper seperti saya bisa ia ajak menjadi kawannya. Dan setelah itu saya diperkenalkan dengan calon suaminya, ya ia tidak memberi tahu secara eksplisit, tapi dari bahasa tubuh, bahasa alamnya saya sudah tau bahwa ini calon suaminya. Dan terakhir merekapun menikah, saya diundang. Intinya hampir mirip cerita diatas, hanya saja yang ini lebih elegan.

Dan masih banyak lagi cerita yang serupa dengan cerita yang saya sampaikan. Namun dari pengalaman cerita ini saya dapat memetik beberapa makna diantaranya

1. Setiap orang memiliki jalan fikirannya sendiri yang terkadang jalan fikiran tersebut adalah sebuah       nasehat untuk kita supaya kita bersikap lebih wajar.
2. Wanita itu unik, dan mereka suka terhadap sesuatu yang terkadang itu khayal, meski tidak semua.
3. Setiap sikap yang ditunjukkan terhadap kita sebenarnya itu ada peringatan di dalamnya untuk kita, terlepas ia bersikap benar ataukah tidak benar dalam menilai kita.
4. Jujur dari semua wanita yang saya kenal masih belum ada yang pas, meski banyak sekali yang menarik hati. Dan buat saya jodoh itu pastilah yang mengerti kita apa adanya, bukan adanya apa

Dan akhirnya terimakasih teman, sahabat wanita-wanita, kalian sungguh teristimewa dan menginspirasi saya untuk tetap semangat dan tersenyum sekaligus tertawa dengan segala fikiran-fikiran kalian. (tidak bermaksud membawa-bawa gender) PEACE (^_^) V


JAM BERAPA?