Laman

Ikhsan Hargo Kusumo

Rabu, 17 September 2014

MEMOAR YANG TERKENANG BERSAMA KOL TUYUL


Bulan September tanggal 18 tahun 2014 ini Jogjakarta terasa panas dan gersang, dan benar saja memang sudah dibelahan bagian daerah Jogja ada yang mengalami kekeringan dan krisis air. Menurut berita yang saya dengar baik lewat radio maupun pembicaraan diantara keluarga memang betul disebagian daerah Jogja seperti Gunung Kidul, Kulonprogo mengalami kesusahan mendapatkan air bersih disebabkan sumur-sumur mereka kering (asat) di tahun ini. Betapa bisa kita rasakan gersangnya bulan ini di Jogjakarta kita tercinta. Lebih dilematis lagi dimusim kemarau yang panas dan kering berdebu ditambah susah memperoleh air, di beberapa daerah di Jogja, lebih tepatnya di Gunung Kidul warga rela membeli 1 tangki air dengan harga 100ribu rupiah dengan cara menjual gaplek (singkong yang dikeringkan, merupakan makanan pokok seperti pengganti beras di Gunung Kidul). Sebanyak 1 kwintal bahkan diberita radio disebutkan ada yang sampai mau jual ternak kambing untuk membeli air, ya kita hanya bisa berharap semoga musim segera berganti, hujan segera turun membasahi bumi sekaligus jiwa-jiwa yang gersang yang haus akan keteduhan.

Sudah panas terasa komplit ketika berhadapan langsung dengan jalan menuju pusat-pusat kota Jogjakarta. Apakah itu? Ya, kepadatan lalu lintas, polusi, dan tentu saja bergelut emosi dalam diri dan kita tau itu sempat terekspos dengan tragedi mahasiswi berpendidikan tinggi yang ternyata emosinya tak selaras dengan edukasinya. Gara-garanya antri bensin langka, ketika itu pertamina membatasi pasokan BBM yang dilanda hampir di seluruh Indonesia tak terkecuali Jogja…. Ada-ada saja wanita komedi ini yang sempat mematik kehebohan dunia maya sosial bahkan merembet ke ranah yang lebih luas yaitu buah bibir dan pemerintah Jogja. Benar-benar heboh waktu itu. Betapa tidak, ketika itu saya sendiri juga mengalami hal serupa yaitu antri bensin di salah satu POM bensin yang tak jauh dari POM bensin TKP, saya di Jakal km 5 dan TKP di POM Lempuyangan. Mungkin mahasiswi terdidik yang bahkan jurusan sadar hukum ini tak perlu mengantri lama-lama karena itu hanya menyita waktunya, tapi saya antri dari jam 9 pagi sampai jam 2 siang waktu itu, saya juga menjumpai kisah-kisah unik ketika mengantri. Ada ibu hamil 8 bulan yang dengan anggun, tertip dan ramah ikut mengantri. Ia gagal memeriksakan kandungannya ke Puskesmas disebabkan motor yang ia kendarai habis bensin. Ada juga mahasiswi yang rela bolos kuliah, ada juga mahasiswi yang secara kebetulan bertemu dosennya sama-sama mengantri, ada juga yang dengan penuh kepercayaan diri rela untuk menitipkan motor, uang, dan kunci motor karena mau ditinggal cari makan khawatir disaat ditinggal mencari makan bensinnya sudah tiba. Ada juga 2 orang lelaki remaja heboh entah saudara, teman, atau apa, sangat atraktif dan penuh gaya ala-ala alay tak henti-hentinya berdecak tawa meriah, tak  ketinggalan karyawan POM bensinnya juga tak kalah berpartisipasi dalam kemajuan zaman dengan sesekali terlihat mengabadikan momen antrian ketika itu dengan smartphonenya, dan masih banyak lagi.

Memang betul terkadang tuntutan zaman dan tuntutan social membuat hal yang sebenarnya sederhana itu dirasa dilematis, sulit dan komplikasi. Contoh kita bisa fokus saja pada satu “TRANSPORTASI”. Anak sekolah yang sejatinya belum berhak mengendarai motor harus berangkat ke sekolah menggunakan motor dengan berbagai alas an dan pertimbangan yang jika didengar masuk akal sekaligus dilematis. Bahkan seperti saya saja contohnya, mengkritisi soal kendaraan motor dan mobil, saya sendiri saja memakainya, kan gitu. Betapa lengkap sudah bukan? Komplikasi dan dilematisnya.

Lanjut. Keadaan seperti itu kemudian mengulik memori kenangan masa lalu yang kalau dibandingkan dengan sekarang masa itu lebih adem bawaannya. Hal itu kemudian mengulik perasaan rindu di dalam hati saya atau malah bahkan mungkin ada yang serasa dengan saya.
Tepatnya kurang lebih ditahun 2002-an sampai sebelum itu dan masih sampai 2004-an akhir mungkin kita tak menjumpai hal serupa pada masa itu di Jogja sekarang. Namanya adalah kami menyebutnya kol kuning, bis tuyul, atau kol tuyul. Dia merupakan sahabat paling lucu dan sangat membantu sekali perjalanan kami ketika itu, karena dia merupakan alat transportasi umum yang beroperasi sampai pelosok-pelosok dusun yang ada jalan aspalnya yang merupakan jalur rute si bis tuyul ini.
Dulu ketika libur ingin jalan-jalan refreshing menjelajah Jogja cukup dengan bangun pagi, siap-siap sudah mandi, sarapan, bawa bekal, dan uang saku sekedarnya nunggu di depan rumah di pinggir jalan, nunggu siapa?... Nunggu si bis tuyul yang warnanya kuning dan ada nomornya atau angka di kaca depannya. Untuk ke Prambanan cukup pakai dua rute atau satu kali ganti bis tuyul. Begitupun jika ingin ke Malioboro, Gembiraloka, Monjali (Monumen Jogja Kembali) dll. Bedanya mungkin kalau sudah sampai tujuan kota seperti Malioboro sekitarnya nanti disambung dengan bus yang besar. Jadi tugas bis tuyul ini hanya di rute-rute pedesaan dusun mengitari pelosok-pelosok untuk mengajak ke sekolah, ke pasar, dan jalan-jalan ke kota dengan pergantian ke bus yang lebih gede ukurannya.

Itulah kenangan bersama bis tuyul, mengingatnya membuat rasa ingin kembali kemasa itu. Tapi sayang masa itu terlewati begitu saja dengan singkat. Padahal banyak hal positif yang kalau ditinjau dengan fenomena transportasi saat ini, bis tuyul bisa menjadikan alternative solusi kepadatan dan polusi yang diakibatkan oleh banyaknya kendaraan bermotor dan mobil yang semakin berlimpah. Ya, kita hanya bisa berharap semoga pemerintah terkait dan masyarakatnya sendiri peka dan saling memberikan solusi terbaik yang tepat untuk Jogjakarta tercinta kita ini. Amin. Be positif thinking
Kembali ke si lucu kol tuyul, ketika itu saya untungnya sempat menikmati berteman akrap dengan kol tuyul meski kita hanya berteman akrab cukup singkat. Diwaktu SMP saya sempat pulang sekolah bersama kol tuyul hanya dengan seribu rupiah dengan uang receh koin sudah diantarkan sampai rumah dengan aman, nyaman. Menjelang Mts dan SMA akhirnya kol tuyul tiada hingga kini belum ada yang bisa menggantikannya, meski TransJogja lahir beberapa tahun kemudian namun sayang hanya kalangan dekat kota dan jalan raya saja yang mampu menikmatinya.
Kini di dusun-dusun justru muncul trend “CINTA PANTAT BERASAB”. Dimana orang-orang tertentu yang justru biasanya kalangan ekonomi minim berlomba-lomba beli atau kredit motor demi menggaet cinta. Yang tak mampu memperoleh motor cukup jual diri demi gengsi, keadaan mereka yang mempunyai selera hidup tertentu, menuntut mereka menggaet/mencari/memburu pasangan idamannya yang punya motor hanya demi kilau sang motor yang membelalak pandangan mereka. Pada akhirnya di dusun polusi suara motor menjadi hidangan sehari-hari bahkan melunturkan suara alam dari pepohonan, burung, dan udara pedesaan yang teduh lagi tenang.
Itulah sekelumit kenanganku bersama kol tuyul si mobil mungil berwarna kuning yang setia menjemput penumpang-penumpang menuju tempat tujuan diwaktu itu. Mungkinkah kol tuyul dapat hidup kembali?

Minggu, 06 April 2014

Telepati



Telepati
(untuk dewasa)
Kita mengetahui maksud yang ingin orang sampaikan salah satu bentuknya adalah komunikasi. Kita berbicara, berdialog menyampaikan apa yang ingin kita sampaikan kepada seseorang. Lalu bagaimanakah jika orang tersebut menyimpannya di dalam hati saja?

Percaya atau tidak jika kita memurnikan hati kita, kita dapat merasakan maksud dari orang lain terhadap kita tanpa ia harus mengutarakannya dalam sebentuk kata-kata yang di lontarkan secara nyata dalam bentuk bahasa komunikasi verbal.

Secara tak sengaja terkadang orang mengutarakan maksud hatinya melalui bentuk-bentuk lain selain bahasa lisan. Misal ia memberikan perhatian yang begitu tulus terhadap kita, memberikan suatu benda, tersenyum, marah, keangkuhan, diam, salah tingkah, ekspresi, sikap, tatapan dan masih banyak lagi. Namun terkadang kita keliru mengartikan maksud ketika ia tak pernah mengatakan maksudnya secara langsung. Makannya ada ijab kabul dalam pernikahan, ada tawar menawar dan ketetapan dalam berdagang supaya jelas maksud dan tujuan.

Nah, tak semua orang peka untuk memahami maksud dari seseorang bahkan seorang pasang jodoh yang Tuhan jodohkan saja yang jelas satu hati satu jiwa masih perlu pemahaman, klarifikasi untuk menyampaikan maksud. Disinilah seninya makna bahasa telepati, kita bicara dari hati, dari hati yang saling terkoneksi dan saya merasakan itu. Meski terkadang saya ragu meyakini maksud itu, tapi saya sadar maksudnya demikian.

Jadi cukuplah kita berbahasa telepati untuk menjaga hati kita yang sama-sama ragu tentang maksud yang sesungguhnya sudah jelas.

Dimana letak keadilan?



Dimana letak keadilan?
(untuk dewasa)
Setelah beberapa bulan buntu alfa dari blog akhirnya untuk yang pertama setelah hengkang mengisi kembali blog ini dengan cerita atau lebih tepatnya suara hati. Setelah mengalami berbagai kejadian, persoalan, dan berbagai pengalaman yang rasanya stag berhenti dari sebuah perubahan yang signifikan akhirnya dari sekian kebingungan yang melanda, inilah cerita dari saya, dari pemikiran saya, dari perasaan saya. 

Setiap orang, setiap pemikiran, setiap manusia dan setiap individu ia punya pandangannya masing-masing dalam melihat, menilai, memahami, mengapresiasi, menyikapi. Saya tidak akan membahasnya apakah itu hak, keyakinan, prinsip dan semacamnya, saya disini hanya ingin mendeklamasikan apa yang ingin saya utarakan itu saja tidak kurang, tidak lebih. 

Setiap kehidupan orang melihat dari berbagai sisi, seperti apapun sisi itu lagi-lagi saya tidak akan memberikan penilaian tentang itu. Saya hanya menekankan bahwa dalam tulisan ini sekali lagi saya hanya ingin berbicara dari sisi saya, yang tentu saja saya tidak harus menghendaki hal ini sesuai dengan apa yang saya sampaikan. Karena letaknya ada di setiap tangan masing-masing penilaian.

Tak ada keadilan yang sejati di dunia ini, inilah dunia. Ketika kita lemah maka dunia memandang kita salah karena kita haruslah kuat. Ketika kita menjadi kuat maka dunia menilai kita janganlah terlalu kuat. Ketika kita sedang-sedang saja maka dunia melihat kita biasa-biasa saja. Itulah keadilan dunia yang ukurannya tak jelas.

Ada pengecualian tentang keadilan adalah kita dibekali nalar dan hak di situlah kita mencari keadilan, memperjuangkan keadilan, dan menuntut keadilan. Karena setiap kita berhak diperlakukan dengan adil.

Zaman perbudakan sudah punah itu menandakan kita sudah merdeka dari penindasan yang artinya kita berhak diperlakukan dengan adil. Namun pada kenyataan perbudakan berevolusi menjadi perbudakan versi baru yang beragam dan bervariasi. 

Jadi, keadilan? Tak ada keadilan di dunia ini. Di dunia ini hanya mengenal keadilan dalam versinya sendiri. Namun alangkah lebih baik adilah terhadap diri kita sendiri untuk bersikap adil dalam mencari keadilan, dan yang paling krusial adalah jangan bersikap tak adil terhadap orang lain dengan alasan apapun, karena itu merupakan ketidakadilan yang tak seadil-adilnya.




Kamis, 28 November 2013

MEREKA YANG TELAH TIADA

MEREKA YANG TELAH TIADA
Pernah ditinggalkan oleh orang-orang yang mendahului kita di dunia?, saya yakin itu bukanlah pertanyaan yang perlu dijawab, karena setiap kita yang lahir di dunia ini sudah tentu ada pula yang meninggalkan dunia ini. Entah ada angin apa tiba-tiba saya ingin sedikit bercerita tentang mereka yang pernah ada di dunia dan meninggalkan dunia dengan meninggalkan kenangan dalam cerita kehidupan saya :). Terlepas bagaimana mereka hidup setelah meninggal semua adalah rahasia Tuhan. Saya hanya akan bercerita mengenai kenangan-kenangan manis yang berkesan dari mereka. Kebetulan dari ingatan yang tersimpan dalam kenangan saya adalah kenangan mereka yang sudah berusia lanjut.

Cerita pertama ialah kenangan bersama mbah buyut. Saya memanggilnya mbah ketirjo, karena ia tinggal di dusun ketirjo, sampai saya tidak tahu nama aslinya. Dulu sejak SD saya sering jalan-jalan atau naik sepeda mengelilingi dusun-dusun dan sawah-sawah. Saya punya kegemaran bertandang kerumah orang-orang yang saya kenal untuk bermain dan hanya mencari hal-hal yang berkaitan dengan petualangan. Ya maklum saya dibesarkan di hutan, tepatnya di Kalimantan yang memang masih banyak hutan belantara. Setiapkali saya bertandang saya selalu diceritakan tentang zaman penjajahan, tentang penjajah belanda, penjajah jepang dan tentang PKI. Saya masih ingat ketika mbah buyut bercerita mengenai perang dunia. Ia bercerita bahwa ia harus bersembunyi di bawah tanah yang dilubangi cukup dalam seperti liang lahat kemudian ditutupi jerami. Setiap ada pesawat di langit lewat semua orang bersembunyi di lubang itu. Jika tidak bersembunyi maka akan terkena tembakkan dari penjajah. Tapi sayangnya ceritanya kurang spesifik. Setiapkali saya tanyakan siapa penjajah itu, ia menjawab “londo, jepang, PKI”. Setiap minggu saya rutin berkunjung untuk mendengarkan cerita-cerita yang menarik perhatian saya. Dan terakhir saya berkunjung ialah ketika mbah buyut kakung memberikan tempat biasanya dia merokok yang terbuat dari kuningan di dalamnya ada uang-uang kuno dan uang Belanda-Indonesia yang biasa dipakai untuk kerokkan. Beberapa hari kemudian ia meninggal. Mbah buyut yang putri ia pindah ketempat anaknya. Dan rumah itu tak berpenghuni hingga kini. Selang beberapa tahun mbah buyut yang putri pun meninggal. Hingga kini setiap tahun saya mengunjungi nisannya terutama disaat seusai Sholat idulfitri.

Berlanjut ke cerita yang lain. Namanya pak Saimin. Ia adalah guru ketika saya SD di Yogyakarta, tepatnya kelas 3 SD. Pak Saimin adalah guru yang rajin dan pandai menggambar. Ia berbeda dari guru-guru kebanyakan atau guru lain di sekolah saya. Ia mengajar dengan caranya sendiri. Ia tidak bisa berbicara jelas, bahkan memang tidak jelas. Suaranya tidak bisa dimengerti. Sesekali ia selalu membersihkan bibirnya dengan sapu tangan yang selalu ia bawa, karena ia selalu batuk. Biarpun demikian kami (seluruh siswa) tetap meyimak apa yang disampaikan oleh pak Saimin. Kadang saya merasa kasihan, sudah sakit seperti itu masih saja ia rajin untuk mengajar. Karena kondisinya setiap kali masuk kelas ia langsung menggambar, ia pernah menggambar sapi, gajah dan rusa. Ia juga pandai menulis huruf jawa. Setelah itu ia meninggal dunia. Yang membuat saya masih mengingat pak Saimin adalah karena ia gigih, tidak peduli di olok-olok oleh guru lain bahkan oleh sebagian siswa, ia menunaikan kewajibannya penuh tanggungjawab sesuai kemampuannya dengan caranya. Mungkin kalau sekarang ada guru seperti ia, maka sudah dipensiun dini. Tapi pak Saimin tidak, ia mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengajar sebagai seorang guru.

Sebenarnya masih banyak kenangan yang mereka (orang yang mendahului kita) tinggalkan, tapi karena saya hanya ingin sedikit saja bercerita, jadi sedikit saja yang dapat saya ceritakan dari cerita yang sebenarnya lebih panjang dan banyak lagi yang lain. Nah lalu saya berfikir bagaimana dengan kita ya?.... sudahkah kita menyiapkan kenangan yang mungkin mereka (orang yang kita dahului kelak/nanti) kenang dengan kenangan yang manis?....

Saya banyak belajar dari mereka, mereka yang sudah tua, atau meraka yang sudah mendahului kita. Mereka tidak pernah tahu kapan mereka berpulang, yang mereka tahu adalah mereka mengasihi antara sesamanya. Dari kasih sayang itulah lahir yang namanya kenangan manis. Dari kenangan manis itulah kita belajar mengasihi. Dari kenangan manis yang mereka tinggalkan itulah kita mengenal Tuhan

Kenangan itu tidak diciptakan, tapi kenangan itu lahir dari perbuatan kita, kasih sayang kita. Kita harus berjuang, kita harus bekerja keras, dan kita tetap harus saling mengasihi :)


Minggu, 01 September 2013

Itu Hanya Perasaanmu Saja


Itu Hanya Perasaanmu Saja
(Untuk Dewasa)
Mencintai bukanlah sebuah dosa, itu yang saya pahami. Cinta sangatlah universal, tidak semata bagaimana kita mencintai terhadap apa yang ingin kita miliki. Tapi bukan berarti ketika kita bersikap baik terhadap seseorang lantas dia boleh seenaknya dengan mudah mengasumsikan bahwa ia teristimewa, sehingga membuatnya tinggi hati. Saya menangkap dari beberapa yang saya alami, meski hal tersebut tidaklah dikatakan, tapi yang jelas sikap dan tindakan mereka keliru. Dizaman sekarang yang membingungkan antara apakah kiamat sudah dekat ataukah kiamat itu sedang terjadi, mustahil kita bisa menutup mata dengan kebebasan sekaligus pencerahan yang menebar ke segala penjuru bumi. Sampai-sampai alam fikiran juga tidak luput dari pengaruh zaman.

Dalam suatu kondisi dan waktu saat perasaan yang biasa dan memang standar tidak ada maksud hati lebih untuk menyukai atau sampai ingin memiliki seseorang, karena mereka hanya seperti teman, adik, saudara dan hanya sebatas itu. Saya sudah terbiasa bersikap yang barangkali terlalu ramah dan formal terhadap seorang wanita.

SEPERTI SEPENGGAL KISAH BERIKUT
  • Dalam sebuah facebook ada seorang teman SMA, seorang wanita yang nge”add” facebook saya. Kebetulan saya benar-benar lupa terhadap orang ini, ya maklum saya sekolah SMA di kalimantan hanya enam bulan alias satu semester saja, dan baru setelah bertahun-tahun ia tiba-tiba nge”add facebook” saya. Ya ia adalah kawan SMA di kalimantan dulu. Kebetulan dalam satu kelas dulu kita sama-sama orang jogja dan kita tidak terlalu dekat sebatas teman kelas tidak lebih. Ketika saya meminta untuk dibantu mengingat dengan benar tentang siapa dia, akhirnya berhasil saya diingatkan olehnya. Saya tentu saja sangat apresiatif, dan dengan basa-basi saya menawarkan ia untuk kapan-kapan ke jogja, main-main kerumah. Secara tidak terduga tanggapannya saya pikir hiperbola, ia malah mengutarakan kurang lebihnya seperti ini “maaf kamu terlambat saya sudah punya keluarga, anak, dan suami”. Dalam hati saya “terus apa kaitannya?”. Ternyata ia menanggapi terlalu memakai fikrannya sendiri. Saya hanya ingin tertawa “unik”. Ternyata mereka membuat imajinasi mereka sendiri. Mungkin dengan begitu ia merasa teristimewa, tapi ya selama ia bahagia bukan masalah. Mungkin itulah fikiran sebagian wanita yang tidak saya mengerti.

  • Kemudian dalam sebuah kebetulan ketika saya opname di rumah sakit tiba-tiba saya mendapat kejutan, kawan-kawan MTS yang sudah sangat lama sekali, datang menjenguk saya. Tentu saja saya merasa senang. Kemudian saya harus berfikir dalam lagi untuk mengingat nostalgia lama yang tersimpan di bawah fikiran. Biasalah kalau reuni pastilah yang dibicarakan kebiasaan-kebiasaan dulu sekolah, guru-guru dan semacamnya. Tapi sayangnya dulu waktu MTS saya tidaklah begitu populer saya hanya siswa kuper yang sedikit teman dan otomatis sedikit cerita, jadi banyak yang “miss” disaat mereka membicarakan masalah nostalgia MTS ini.
Saya memiliki kekurangan salah satunya terlambat dalam menemukan ingatan, namun sekali ingat langsung sampai ke detil-detilnya bisa saya ceritakan, itulah kekurangan saya. Begitu saya ingat, saat itu pula saya begitu antusias terhadap salah seorang diantara empat teman yang menjenguk saya di rumah sakit tersebut, kebetulan ia satu-satunya perempuan. Saya menceritakan kalau kita dulu pernah dekat sebagai teman, sampai segala pembicaraan anak puber waktu itu kita ceritakan blak-blakan. Saya hubungi ia lewat SMS segala rahasia yang ternyata ia sudah melupakannya, sedangkan saya sangat mengingatnya. Lagi-lagi saya dengan jelas tidak menyimpan perasaan apapun. Seperti biasa mungkin ia berfikir saya ada perasaan terhadapnya, mungkin merupakan alasan yang tepat ia mengira demikian, sebab memang saya “jomblo” bahasa zaman sekarangnya. Tidak berapa lama saya di undang dalam acara ulang tahunnya, saya pun merasa senang. Sesampai disana saya langsung disambut dengan baik, kita saling menyapa diantara semua undangan yang datang. Dan saya pun diajaknya berfoto berdua, saya pun dengan senang hati, karena ia memang seperti sahabat dikala MTS ia bisa dekat terhadap siapa saja, bahkan orang kuper seperti saya bisa ia ajak menjadi kawannya. Dan setelah itu saya diperkenalkan dengan calon suaminya, ya ia tidak memberi tahu secara eksplisit, tapi dari bahasa tubuh, bahasa alamnya saya sudah tau bahwa ini calon suaminya. Dan terakhir merekapun menikah, saya diundang. Intinya hampir mirip cerita diatas, hanya saja yang ini lebih elegan.

Dan masih banyak lagi cerita yang serupa dengan cerita yang saya sampaikan. Namun dari pengalaman cerita ini saya dapat memetik beberapa makna diantaranya

1. Setiap orang memiliki jalan fikirannya sendiri yang terkadang jalan fikiran tersebut adalah sebuah       nasehat untuk kita supaya kita bersikap lebih wajar.
2. Wanita itu unik, dan mereka suka terhadap sesuatu yang terkadang itu khayal, meski tidak semua.
3. Setiap sikap yang ditunjukkan terhadap kita sebenarnya itu ada peringatan di dalamnya untuk kita, terlepas ia bersikap benar ataukah tidak benar dalam menilai kita.
4. Jujur dari semua wanita yang saya kenal masih belum ada yang pas, meski banyak sekali yang menarik hati. Dan buat saya jodoh itu pastilah yang mengerti kita apa adanya, bukan adanya apa

Dan akhirnya terimakasih teman, sahabat wanita-wanita, kalian sungguh teristimewa dan menginspirasi saya untuk tetap semangat dan tersenyum sekaligus tertawa dengan segala fikiran-fikiran kalian. (tidak bermaksud membawa-bawa gender) PEACE (^_^) V


Sabtu, 08 Juni 2013

KENANGAN ALAM

KENANGAN ALAM

Dua sisi yang saya rasakan tentang bagaimana pada sisi tertentu saya cukup merasa penat memikirkan apa yang belum terwujud dalam cita-cita saya, dan di sisi lainnya justru mengingatkan saya dimana saya juga pernah merasakan masa dimana saya cukup merasa lega. Dikala penat melanda saya sedikit merenggangkan fikiran dengan berjalan-jalan di malioboro masterpisnya kota jogja. Meski jogja terasa semakin macet dibanding ketika saya masih mahasiswa baru dulu. Disalah satu sudut di depan pasar beringharjo saya sengaja  membeli cemilan murah cenil dan klepon. Tepat di depan penjual makanan tradisional ini ada bule-bule duduk manis membicarakan makanan yang ia beli sama seperti yang saya beli, “ is unic food, in holand not kind like that...” kurang lebih percakapan yang saya tangkap demikian, sembari asik bercerita penuh ekspresif, tampak salah seorang diantara mereka berdiri menyimak penjelasan dari gaet mereka. Mereka begitu tampak antusias juga senang.  Saya yang curi-curi pandang dan menguping ikut terhayut dalam pembahasan mereka, saya seolah melihat lukisan renaissance yang hidup di depan mata saya. Saya bersama mama saya duduk sembari memakan cenil dan klepon, benar saja rasanya enak dan mudah kenyang di perut. Selain klepon dan cenil, ada onde-onde, puthu, dan lumpia, tapi kami cukup membeli klepon dan cenil waktu itu. Sembari duduk-duduk santai memandang hiruk pikuknya jalan malioboro tampak bule-bule, andong dan kudanya, becak dan juga ada orang yang foto-foto menggunakan tablet. Tiba-tiba perasaan saya mengingatkan tentang tanah kelahiran saya, tentang alam, makanan dan buah-buahan yang saya tiba-tiba merindukan mereka (kenangan bersama alam). Ya mungkin ini salah satu dampak dari tekanan dan kenangan. Klepon dan cenil yang pecah didalam mulut adalah kunci yang membuka kenangan-kenangan tersebut. Seolah saya mengalami flash back tentang bagaimana rasanya pernah hidup indah bersama alam.
Contoh Lukisan Renaissance 

Perasaan itu tetap menggelayuti hati saya sekelebat saya teringat tentang bagaimana hujan yang turun di jogja berbeda dengan rasa hujan yang turun di tanah kelahiran saya dulu. Dimana tanahnya liat berwarna merah kecoklatan, lengket dan susah dibersihkan jika terkena pakaian. Berbeda di jogja tanahnya berpasir dan berwarna abu-abu hitam. Saya juga teringat betapa luas dan jarangnya rumah-rumah penduduk di tanah kelahiran saya, menciptakan keheningan yang berbeda jika dibandingkan dengan di jogja yang lebih ramai dan terasa memiliki banyak tetangga. Di tanah kelahiran saya masih banyak ditemui belukar, hutan, padang ilalang jika mengingatnya rasa itu sangat kuat, karena tinggal dilingkungan yang terasa lebih luas membuat hati mudah terenyuh. Dikala sedih perasaan benar-benar bisa menghayati terasa betapa sepi tinggal di sana. Waktu itu sepucuk surat dari jawa adalah penghibur yang rasa senangnya mengenang-ngenang dihati. Begitu romantisnya jika mengingat bagaimana pernah merasakan sepi, jauh dari keramaian seperti di jogja. Segala hal yang barangkali orang jogja tidak rasakan kami begitu sangat menghargai perasaan sekecil apapun.
Flash back saya tidak berhenti terus mengalun seiring rasa-rasa yang pernah tersimpan rapi dan sejuk didalam hati dan jiwa saya. Ketika hendak menjenguk embah di bantul mengingatkan tentang salah satu pasar di bantul namanya pasar turi, orang bantul terlihat lebih lugu ketimbang di pasar sleman. Di pasar turi ini ada buah yang unik, buah ini gabungan dari buah pakel dan buah mangga namanya buah kweni. Rasanya pun lebih berserat dari pada buah mangga, seperti kolaborasi antara pakel dan mangga membaur menjadi satu bentuk buah, manis dan tidak terlalu asam.
Buah Pakel

Buah Kweni

Nama pasar turi hampir mirip dengan daerah penghasil buah salak yaitu di pakem, kaliurang, turi, sleman. Saya dan mama ingin membawa buah tangan untuk dibawa ke bantul, untuk embah di sana yang sekiranya pantas dan bisa sebagai makanan dan ide mencari salak pun muncul. Salak mengingatkan saya pada buah yang menyerupainya namun sangat berbeda rasanya. Buah ini terasa masam sekali dan biasanya di buat manisan buah ini bernama kelubi, biasanya tumbuh di dalam hutan tempat kelahiran saya. Pohonnya mirip dengan salak namun tetap ada perbedaan rasa yang mencolok. Biasanya tumbuhan kelubi ini subur di pinggir-pinggir sungai, rawa, atau hutan pedalaman. Rasanya masam bukan main sampai kalau pernah merasakannnya, melihat daging buahnya saja sudah mampu membuat gigi linu dan air liur keluar
Inilah buah Kelubi

Perjalanan kenangan saya terus menerawang dan semakin mengenang di hati. Disaat saya memandang gunung merapi yang besar di jogja saya teringat gunung bawang di bengkayang salah satu kabupaten di tanah kelahiran saya dan saya pernah tinggal dan bersekolah di tempat ini. Gunung bawang sering di jadikan objek anak-anak pencinta alam di sekolah saya. Gunung ini tidak aktif karena gunung ini adalah bukit yang membentuk gunung
Gunung Merapi 

Gunung Bawang

Di perjalanan saya melihat sawah padi yang rapi berjajar di jogja. Di tanah kelahiran saya padi jarang saya lihat. Saya sering melihat ilalang di pinggir-pinggir jalan, kalau tidak ya belukar dan pohon-pohon hutan yang menjulang di iringi tebing-tebing yang dibentuk alam dengan alami. Saya juga masih ingat saya melihat kuburan cina yang eksotis diantara pandangan saya melihat ilalang di jalan.
Kuburan Cina

Dijalan menuju singkawang yang terkenal banyak amoy dan kelnteng ini, saya melihat rumah-rumah penduduk dari papan yang berdiri kokoh di atas rawa atau sungai, diantara rawa tersebut tumbuh indah bunga teratai persis seperti teratai dewi kwan’in dalam serial kera sakti, sedang di depan rumah-rumah di pinggir jalan tersebut terdapat sungai besar yang dipakai penduduk untuk mandi dan mencuci.
Bunga Teratai

Setelah ke singkawang kembali ke sanggau ledo tepatnya di transau. Di tempat kenangan ini saya teringat ketika waktu kecil saya diajak orang tua saya, ia memiliki hobinya yaitu senapan angin dan main. Tepat dibelakang rumah kawan bapak saya itu tumbuh rimbun pohon jambu bol dengan buah jambu bol yang besar dan matang. Kesannya ditempat itu seperti rawa, becek namun memiliki aroma alam yang menyegarkan dan juga pastinya romantis. Jambu bol ini mirip dengan jambu air tapi berbeda. Pohon jambu bol memiliki siklus yang unik, ketika berbunga bunganya berwarna ungu berupa helai-helai runcing yang akan gugur seperti hujan salju namun berwarna ungu. Jambu bol memiliki rasa yang manis, asam dan dangingnya lebih gembur, seperti apel, juga lebih empuk.kalau sudah matang  jambu bol enak dimakan begitu saja, atau dimakan dengan sambal belacan(tersasi). Jambu bol memiliki wangi dan cita rasa yang khas.
Jambu Bol

Jambu bol mengajak saya untuk mengenang tentang berbagai buah-buahan yang pernah saya cicipi dan langka di dapati. Dulu ketika saya kecil setiap saya pulang mandi dari sungai saya harus melewati ladang-ladang. Diladang itu tumbuh subur pohon cempedak. Cempedak ini mirip dengan nangka namun berbeda. Cempedak lebih manis dan lembek buahnya namun enak. Cempedak jika matang seharusnya ia akan jatuh sendiri dari pohonnya. Biji buah cempedak lebih bulat dan danging buahnya lebih lembut dan teksturnya lumer seperti buah nangka blonyoh, tapi buah cempedak lebih wangi bahkan enak dijadikan cempedak goreng seperti pisang goreng. Bijinya pun bisa direbus seperti biji nangka.
Buah Cempedak


Di tempat kelahiran saya banyak terdapat sungai-sungai besar yang asli dari alam bukan buatan manusia. Karena itulah barangkali disebut dengan kalimantan. Bahkan setiap musim penghujan tiba di ledo salah satu tempat di kalimantan barat sering banjir. Uniknya orang-orang sudah hafal dan bersahabat dengan alam, mereka menggunakan sampan sebagai alat transportasi.
Sungai dan Sampan

Saya masih ingat waktu kecil saya diajak kedua orang tua saya bersama adik saya yang masih kecil ketika itu. Kami ingin berkunjung ke suatu tempat kawan orang tua kami. Untuk mencapai lokasi rumahnya bukan perkara mudah dan dekat. Kita harus melalui jalan kecil dan hutan-hutan yang gelap tak berpenduduk. Jalan juga becek dan liat yang lebih mencengangkan kami harus melalui seuntai jembatan gantung panjang yang bila terkena angin jembatan tersebut bergoyang mengerikan dan di bawahnya terdapat sungai dalam yang luas. Rasanya seperti fobia ketinggian rasa khawatir jatuh pun menghantui, sampai-sampai saya merangkak melewati jembatan gantung yang hanya terbuat dari kawat dan kayu yang ringkih, lapuk, dan horor. Belum lagi memandang kebawah ada sungai yang dalam tidak tau bagaimana hewan didalamnya seperti buaya, ular dan semacamnya. Sejauh mata memandang hanyalah hutan gelap yang tak seorang pun ada di sekitarnya.
Ilustrasi Jembatan Gantung
Seusai kami berkunjung di tempat kawan orangtua kami tersebut kami harus kembali melalui jalan yang sama. Setiap melewati jembatan itu rasanya ingin lewat jalan lain saja, tapi masalahnya hanya itulah satu-satunya jalan. Sesampai di rumah hati lega dapat pulang dengan selamat dan tentunya sekarung oleh-oleh berupa buah duku dan manggis dibawakan kawan orangtua kami. Kawan orangtua kami memang memiliki pohon manggis, duku, juga masam sejenis mangga tapi kecil-kecil dan rasanya masam, biasanya dibuat sambal teramcam, atau disayur pedas.
Buah Duku

Pohon Manggis

Buah Manggis

Masam


Masam yang sejenis dengan mangga pun mengingatkan saya dengan oleh-oleh yang selalu dibawakan teman saya dari indramayu, namanya mangga indramayu. Rasanya khas, wangi dan manis, makan satu buah saja bisa kenyang karena yang dibawakan teman saya dari indramayu biasanya besar, dagingnya juga tebal, juga gemuk.
Mangga Indramayu

Bicara duku, di jogja saya menemui seperti saudara suku namun rasa dan cara memakannya sedikit berbeda, rasanya juga beda namanya rumbai. Bentuknya mirip bulat-bulat seperti anggur tapi lebih besar, berwarna kuning dan kulitnya tebal. Rasanya pun beda, duku cenderung asem manis dan isinya pahit, sedang rumbai asem manis tapi isinya tidak pahit. Cara makanya juga beda rumbai langsung digigit, disedot sedang duku harus di pencet menggunakan tangan dan di kupas.
Rumbai


Masih mirip dengan rumbai dan duku, saya mengenal pertamakali buah ini dari teman saya yang dapat oleh-oleh dari temanggung, namanya buah kelengkeng. Agak beda dengan rumbai dan duku. Kelengkeng rasanya manis seperti rambutan, isinya berwarna hitam dan keras, daging buahnya berwarna putih bening.
Kelengkeng

Kembali ke malioboro, pernah dalam suatu hari saya ke malioboro hanya hunting sukun goreng. Rekomendasi dari kawan kerja mama saya membuat penasaran. Dan pada akhirnya benar rasanya gurih, asin, sedikit manis-manis sukun. Tempatnya di dekat ramai mall. Sukun juga ada saudara miripnya namanya klatak. Bedanya sukun dagingnya gembur seperti ubi sedangkan klatak tak berdaging hanya berdami. Klatak hanya bisa di sayur sedangkan sukun bisa dibuat berbagai makanan, disayur, dikukus, digoreng, bahkan dijadikan tepung untuk membuat kue.
Sukun

Klatak

Makanan dijogja tidak kalah unik, pertamakali kejogja saya sempat terheran-heran dengan salah satu makanan yang menyerupai lengkuas/laos atau jahe. Tapi masalahnya bentuknya raksasa kalau dibandingkan dengan lengkuas/laos atau jahe. Ternyata tumbuhan ini bernama lembong atau ganyong. Beda dengan lengkuas, lembong lebih seperti makanan krowot atau umbi-umbian yang dapat di rebus seperti ubi. Lembong bisa dijadikan pati atau tepung lembong.
Lembong

Kantong semar mungkin ada yang mengatakan langka, ternyata di lingkungan tempat saya tinggal di kalimantan tumbuhan pemakan serangga ini banyak tumbuh disemak-semak diantara belukar, terutama banyak terdapat di hutan-hutan basah yang biasanya ada rawa atau subur ketika musim penghujan. Bentuknya yang purba mengingatkan akan tumbuhan pemakan hewan yang karnivora dan aneh. Penasaran dengan isi di kantong semar pernah saya memasukkan jari saya, yang ada jari saya disengat serangga didalamnya. Dari kejadian itu saya jadi males kalau didekatkan dengan kantong semar, seperti menakutkan. Seperti tumbuhan alien atau monster.
Kantong Semar

Mengingat kembali tentang klepon, cenil atau onde-onde di malioboro mengungkit kembali kepada masa anak-anak saya di kalimantan. Tepatnya di transau, di daerah perantauan seperti tempat tumbuh saya waktu kecil, susah mendapatkan makanan khas jawa seperti tempe, krupuk lempeng atau juga seperti makanan tradisional. Sebut saja namanya Mbah Guno, ia juga merupakan perantau dari jawa. Ia sering membuat tempe dan kerupuk lempeng. Selain itu ia juga merupakan orang jawa yang berjualan kue tradisional seperti mendut, onde-onde, nagasari, apem kukus, dan jumbreng. Dengan bersepeda ia menjajakan kue tradisional ke rumah-rumah kami yang ia bawa pada bronjong/keranjang dari kain,  diletakkan pada boncengan belakang sepeda. Hal yang tidak pernah lupa adalah jambu raksasa yang berukuran besar-besar di rumahnya, jambu ini berisi merah juga putih, sama persis dengan jambu batu merah dan putih biasanya, rasanya juga sama, hanya ukurannya saja yang ekstra besar seolah seperti jambu batu purba.
Jambu Batu Biji Besar


Dan akhirnya kenangan saya bersama alam tidak cukup hanya saya uraikan dalam sebuah cerita pendek. Kenangan bersama alam panjang ceritanya, karena setiap jengkal yang alam berikan tidak cukup sejuta kata mengungkapkannya. Tapi yang jelas alam begitu banyak menyimpan auranya bersama kenangangan dengan makhluk disekitarnya. Alamlah yang mampu memberikan nuansa kehidupan, alam pula yang telah banyak memberi kita kehidupan. Menjaga alam sama halnya menjaga kenangan-kenangan indah didalamnya. Alam berbicara kepada kita melalui ronanya yang khas. Tiada yang percuma yang Tuhan Ciptakan, semua Ciptaan-Nya bermanfaat bagi manusia termasuk alam semesta beserta isinya. Betapa Maha Besar, dan Maha Kasih-Nya.
Terimakasih alam





JAM BERAPA?