Laman

Ikhsan Hargo Kusumo

Sabtu, 17 Maret 2018

MANUSIA IBLIS


MANUSIA IBLIS
(DEWASA)

Bicara soal manusia, dia adalah kita yang konon diberikan keistimewaan tersendiri dibandingkan makhluk lain ciptaan Tuhan. Keistimewaan itu berupa akal, katanya, faktanya?. Bahkan dikisahkan ada salah satu jenis makhluk Tuhan yang tidak terima mengapa ‘’manusia’’ lebih ditinggikan derajatnya oleh Tuhan di bandingkan makhluk lainnya, dan dia adalah iblis. Iblis membuat kesepakatan kepada Tuhan untuk senantiasa menjerumuskan manusia.

Manusia selalu tertipu daya oleh iblis, tidak hanya melalui bisikan, tapi bahkan turut mengalir di aliran darah, di saraf, di pernafasan ia masuk melalui seluruh elemen yang ada di dalam tubuh manusia. Bahkan fatalnya yang konon otak yang digunakan manusia untuk berfikir dan di situlah akal berada -dan akal merupakan keistimewaan manusia yang diberikan Tuhan, sehingga manusia menjadi istimewa- iblis mampu masuk di dalam akal manusia.

Iblis tidak hanya menjerumuskan manusia dewasa, ia berkemampuan untuk menggoda seluruh jenis, usia, latar belakang manusia, tak terkeculai seorang guru, seorang murid di lembaga pendidikan, yang notabene lembaga ini adalah lembaga penangkis iblis. Dimana di dalamnya terkandung pendidikan agama, kharakter, budi pekerti agar kita jangan berbuat seperti iblis.

Iblis sudah terlalu dalam dan pesat mengikuti perkembangan zaman peradaban manusia, ia termoderenisasi, ter up to date, dan seiring-sejalan dengan kemajuan manusia itu sendiri. Ia menjangkiti manusia dari pelosok hingga perkotaan. Manusia yang lalai dan tak menyadari jika ia hanya terjerumus, oleh rayuan, dan hipnotis iblis. Bak zombi mereka yang terpedaya hidup hanya dalam kendali iblis, ia dibutakan oleh harta, tahta, sex, dan obat-obatan/minuman terlarang atau khamr. Pikiran mereka dikotori oleh prasangka buruk. Hati mereka dipenuhi dengki, ria’, congkak, dendam, dan cinta dunia.

Maka yang demikian itu tak ubahnya kita sebut dengan "Manusia Iblis"

Seperti biasa karena ini blog pribadi saya otomatis bercerita mengenai pengalaman saya, seperti biasa pula saya tak memberi garansi bahwa tulisan saya ini layak atau tidak. Saya sekarang adalah seorang guru tentu yang akan saya urai berkaitan tentang dunia yang sekarang saya jalani. Kembali ke tema tulisan saya di awal. Saya mendapati beberapa manusia terpedaya iblis, atau bisa kita sebut saja ‘’Manusia Iblis’’.

Tak disangka peserta didik yang notabene seorang murid yang masih usia SMP ia pun tak luput dari tipu daya iblis. Ketika ujian berlangsung saya sempat beberapakali berdebat halus mengenai pemahaman ujian, dimana ujian yang baik adalah ketika kita belajar sebelum ujian untuk mempersiapkan diri agar hasil nilai ujian baik, tidak menyontek, di kerjakan dengan jujur. Dengan bangga sang anak bilang, ‘’yang dinilai oleh guru, dan masyarakat itu kan yang penting nilai pak bukan kejujuran’’. Saya pun berusaha menimpali,’’tapi yang dinilai ketika kita menjadi orang itu keahlian kita, kemampuan kita, dan kharakter kita’’. Dengan entengnya dia pun bilang lagi ’’tapi tetap yang dilihat hasil akhirnya nilai pak’’. Saya diam dan saya pun terpedaya iblis, dalam hati saya bilang,’’DASAR IBLIS!!!’’, lalu saya istiqfar.

Lalu guru dan staf juga tak luput dari iblis dan menjadi manusia iblis. Sejatinya sebuah institusi yang di dalamnya terdiri dari berbagai elemen kita harus saling asih, asuh, dan tenggangrasa dan itu tak sebatas semboyan. Ketika itu hanya dijadikan sebuah informasi semata bukan dipahami dan dilakukan nyata dari hati, itulah yang disebut dengan ‘’OMDO’’, omong doank, meski gak serta merta lalu kemudian tak ada tenggangrasa, asih, asuh samasekali juga. Itu masih ada. Suatu ketika saya memperhatikan ada sekelompok orang berkumpul dan tampak mereka terbahak-bahak, lalu saya mendekati kelompok orang ini, tak terduga ternyata mereka menertawakan orang lain atau sesuatu misal menyebutkan makanan dengan nama-nama kotor, menghina bahasa yang menurut mereka lucu, dan saya merasa ini gak seru, sama sekali gak lucu. Saya berusaha beradaptasi dengan mereka saya berusaha mengimbangi pembicaraan mereka yang pada akhirnya saya pun terjerumus iblis atas dasar tenggangrasa iblis pandai membisikan sesuatu terhadap kita dan menularkan penyakit neraka kepada kita. Pertama-tama saya pun berusaha turut tertawa atas apa yang mereka tertawakan, yakni dengan cara menghina, dan merendahkan orang lain atau sesuatu dengan embel-embel ‘’ini bercanda loh ya’’. Pada akhirnya saya menyadari ternyata gaya mereka yang menurut mereka jujur itu adalah dengan merendahkan dan mencemooh orang lain atau sesuatu. Saya kena cemoohan mereka pada akhirnya, mereka mengkritik gaya berjalan saya yang seperti kakek-kakek, dan mereka memberi anjuran supaya saya mengangkat 6 kursi sembari naik turun tangga, lalu mereka terbahak-bahak dan saya melihat mereka persis seperti iblis. Kemudian dikala saya mengerjakan sesuatu mereka tampak perhatian dengan memberikan saya makanan, lalu ada salah seorang bilang, istirahat dulu, makan dulu nanti tari kecak dengan nyinyir ia mencemooh penyakit saya. Dan masih banyak lagi gaya-gaya iblis yang berkedok bercanda, dan ciri khasnya selalu diiringi tawa yang terbahak-bahak atau senyum nyinyir. Mereka selalu berkilah,’’kalau di sini orang-orangnya memang begitu bercandanya apa adanya, gak kayak orang jogja kalem-kalem tapi di pendam’’. Dalam hati saya bilang ’’gak semua juga, kamu aja suka ngajak teman, DASAR MANUSIA IBLIS!!!’’.

Suka mengkritik tanpa membangun alias ‘’kritik tak membangun’’. Ketika ada orang memberikan anjuran yang baik manusia iblis hadir di belakang dengan cara bergumam, dan bibirnya tidak bisa diam selalu mengritik segala perkataan seseorang yang sedang mengemukaan gagasan, bahkan segala tindak-tanduk dikritik dari ujung bumi sampai ujung angkasa, intinya semuanya salah, semuanya keliru, harusnya begini-begitu tapi Cuma bicara di belakang sembari mengajak kawan supaya ikut menjadi koloninya untuk menjadi manusia iblis.

‘’Tulung Pentung’’. Menawarkan surga dan memberikan neraka kemudian. Berkedok urusan pekerjaan, selalu datang untuk mengajak mengerjakan sesuatu alasannya kepentingan sekolah. Pada kenyataannya mengerjakan di luar pekerjaan sekolah dan membabukan manusia, padahal sesama manusia. Dengan menjaga image alasannya seorang yang penting menurut dia pribadi, ia hadir untuk mengerjakan sesuatu, membantu dia. Alasannya ‘’jenengan masih sendiri, masih bujang, kalau yang lain kan sudah berkeluarga’’. Dalam hati saya, ‘’DASAR IBLIS!!!’’ bukan lagi manusia iblis tapi iblis sejati.

Ketika kita mengerjakan sesuatu yang positif dan kita berusaha sebaik mungkin, iblis ini hadir, ia bilang ‘’ganing kayak kue’’ yang artinya ‘’kok seperti itu’’. Gak ada benernya dimata iblis. Ujung-ujungnya ketahuan dia menghina, mengkritisi karena dia ingin.

Berprasangka buruk tiada henti, segala tindak tanduk kita di perhatikan dengan seksama, lalu ditebak-tebak,’’kamu kenapa?, kamu di suruh ini ya, itu ya?, mereka sering membicarakan saya ya?, siapa bosnya, ayo gak apa-apa bilang aja?, kamu gak sakit hati kan dengan perlakukan atau candaan saya?, bla, bla, bla. Dalam hati saya,’’,’’iblis, iblis, kekhawatiran kamu itu harusnya kamu pakai untuk diri kamu sendiri’’.

Memecah belah dengan membuat kelompok-kelompok, dengan cara mengadu domba memfitnah orang lain dengan sebutan,’’gap-gapan’’.

Dan lain sebagainya. Semoga kita selalu diberi kesadaran utuh, dan ketika iblis hadir kita mampu menangkis, dan membuat kekuatan manusia yang tangguh dengan memupuk ilmu, dan ibadah karena Alloh SWT. Aamiin.

Kuncinya adalah iblis itu takut akan cermin, maka bercerminlah akan segala perbuatan kita, ketimbang sibuk menyalahkan dan mencari teman sebanyak-banyaknya untuk mendukung keiblisan kita. Mari kita lawan iblis meski ia sudah bersumpah untuk menghancurkan kita. Jangan relakan kemanusiaan kita di gantikan menjadi MANUSIA IBLIS, dan bahkan menjadi IBLIS seutuhnya, di jamin kita meyesal. Dan rayuan iblis lebih gombal, lebih sesat!!!.

Sekian, salam cermin (intropeksi)

Selasa, 24 Oktober 2017

A NEW ALIEN PLACE FILLED WITH SOMETHING NEW AND DIFFERENT


Terdampar di Kota Telur Asin dan Bawang Merah

Masih melekat di ingatan tertanggal 17 Juli 2017 adalah awal cerita saya berada di kota yang sudah tidak asing -terkenal- akan telur asin dan bawang merahnya. Dengan segala kesombongan saya, saya berusaha memepertahankan prinsip saya, harus hati-hati di tempat asing ini, itu saya pegang dengan kuatnya. Namun sedari awal saya sudah merasakan semenjak dari stasiun yogyakarta menuju daerah ini, ada perasaan yang seperti bersahabat, ibarat bertemu dengan keluarga cemara. Decak perasaan ceria, lucu, unik semua bercampur manis dalam balutan senyum seringai saya. Meski saya pernah mempunyai kawan dengan logat beraneka rupa termasuk ngapak, namun terjun langsung di tempat aslinya serasa bagaikan pemandangan baru yang menggelitik hati. Sampai di stasiun purwokerto sudah terasa betapa mereka mempunyai ciri khas budaya sendiri meski kita serumpun se pulau.

Ketika itu saya belum tahu alur jalur kereta menuju tempat ini, saya kira kabupaten ini lokasinya berdekatan ternyata antar kecamatan jaraknya hampir sama seperti jarak antar kabupaten di yogyakarta. Pada saat itu saya turun dari stasiun Bumiayu tempat sahabat saya yang pernah hilang yang saya ceritakan di blog ini beberapa tahun yang lalu. Saya sempat tinggal sebentar di tempatnya dan benar dia sudah memiliki hidup yang jauh berbeda ketimbang saya, dia sudah berumah tangga, menjadi seorang guru dan memiliki putri yang cantik dan sangat ia sayangi. Berkat sahabat saya inilah saya mendapatkan informasi mengenai lowongan di sekolah yang akan menjadi tempat saya berlabuh untuk mengabdi sebagai seorang guru.

Hari dimana saya masuk pertama di sekolah ini sambutan ramah dari salah seorang guru  membuat saya yakin untuk memutuskan sekolah ini adalah tempat yang tepat. Benar saja beberapa hari saya mulai berkegiatan di sekolah ini saya menemukan orang-orang dengan pribadi yang penuh sambutan, ramah tamah dan kekeluargaan. Walaupun tak luput sempat ada cerita mengenai orang yang kurang begitu menghargai saya dengan memperlakukan saya dengan penuh kemunafikan, tapi itu berlangsung hanya sebagai selingan dan sudah lepas dari belenggu itu.  

Di sekolah ini saya menemukan orang muda yang berdedikasi, dan mengabdi seperti saya-tapi mereka justru lebih muda usianya daripada saya- dengan penuh ketulusan, kejujuran, dan keikhlasan. Dari hal tersebut saya merasa salut terhadap mereka. Mereka menyambut saya sebagai bagian dari mereka, saya adalah orang asing yang terasing yang selalu menyebut kata “yogyakarta” dalam membandingkan budaya di tempat ini yang barangkali menyinggung mereka tanpa disadari, ternyata saya menyadari secara tak sengaja terkadang kita selalu membawa nama latar belakang kita kemana-mana, itulah mengapa ada pepatah yang mengatakan “dimana kaki berpijak di situ lagit di jinjing” supaya kita tak terlalu membawa-bawa asal kita.

Pengalaman mengajar saya sebagai seorang guru adalah di saat PPL dan mengajar ekstra saja untuk menjadi guru yang benar-benar seorang guru baru kali ini. Rasa syukur tentu seharusnya saya ucapkan kepada Sang Maha Pencipta, karena kesempatan inilah yang pernah saya idamkan.

Wajah-wajah baru, senyum-senyum baru, lesung pipit, bahasa, logat, nada bicara yang indah. Murid-murid yang lugu, yang berjuang, yang belajar. Makanan yang enak di lidah. Terimakasih kawan-kawan baru, teman-teman kecil, Brebes. Semoga kita mengukir kenangan yang manis, yang bermanfaat, yang baik dan happy ending. Aamiiin


SELAMAT DATANG, TERIMAKASIH ATAS PENERIMAAN, SAMBUTAN DAN MENJADIKAN SAYA MENJADI SALAH SATU BAGIAN DIANTARA KALIAN.






Jumat, 25 September 2015

KEMBALI MUDA KEMBALI



Di usia seperempat abad lebih sudah ini, apa yang bisa dibayangkan dan dirasakan ketika kita kembali ke masa dimana usia kita masih belasan tahun atau menginjak dua puluhan awal. Pasti kenangan-kenangan indah di masa muda yang pernah kita lalui, atau belum sempat kita lalui dikarenakan masa itu terlewati begitu saja adalah masa dimana waktu itu tak mungkin untuk di putar kembali seperti kisah fiksi yang bisa memutar waktu kebelakang. Inilah pengalaman saya dalam mengarungi waktu layaknya kembali ke masa lalu.
Sebagai job seeker sejati tak sengaja saya bertemu pada lembaga pendidikan gratis yang memberi kesempatan kepada saya untuk belajar dan berlatih dalam ruang lingkup pendidikan bak sekolah. Saya pun mendaftarkan diri, saya masuk pertamakali di lembaga pelatihan tersebut, yang sebelumnya saya tak mengetahui adanya lembaga pelatihan gratis tersebut. 

Semangat dalam menempuh pendidikan di hari pertama, serasa kembali ke masa sekolah dulu. Bertemu dengan kawan-kawan baru, mengenal kembali bagaimana menjadi siswa layaknya bersekolah/berkuliah kembali, menjadi siwa baru/mahasiswa baru. Lupa kalau sudah bukan mahasiswa lagi, yang sejatinya seumur hidup kita, kita adalah siswa/mahasiswa di lembaga pendidikan dunia alam semesta, karena belajar tak akan berakhir sampai ke liang lahat :)

Menyaksikan wajah-wajah baru di lingkungan yang baru. Hari-hari pun seolah menyibukkan diri dengan jadwal pelajaran, yang sengaja di buat sibuk, padahal selow hehehe. Berangkat selalu lebih awal, berjibaku dalam atmosfer bak anak kuliahan baru. Setiap pagi berangkat dengan trans jogja menjumpai beraneka jenis orang di halte ketika menantikan jalur rute bus menuju lembaga pelatihan, atau dikala tertentu bersepeda ria menjumpai aktivitas menusia memulai paginya, benar-benar siswa yang tekun :)

Begitu rutinitas saya ketika itu, saya selalu menempatkan diri pada status saya sebagai seorang pembelajar yang sangat mencintai pembelajaran sampai kapanpun. Di sana saya berjumpa pada kharakter-kharakter yang selalu berbeda dari sebelumnya dan yang pasti luar biasa. Mereka muda, mereka penuh semangat dalam hidup ini. Saya banyak belajar dari mereka ini. Seperti biasa dalam perkenalan sudah tentu kita saling bertanya mengenai identitas diri kita, tentang alamat, tentang latar belakang dan semacamnya. Saya selalu tidak ingin membahas status saya kepada kawan-kawan baru saya ini. kenapa? Karena saya ingin berteman dengan mereka tanpa memandang siapa kita, tapi kenallah saya seperti apa yang kalian lihat :)

Kita bisa belajar dari siapa saja, tanpa harus melihat latar belakang mereka. Belum tentu yang pendidikan lebih tinggi pengetahuannya lebih banyak di bidang tertentu. Belum tentu yang usianya lebih tua pengalamannya lebih banyak dibandingkan yang lebih muda. Belum tentu yang lebih banyak hartanya lebih kaya hatinya. Dan itu terbukti saya banyak mendapatkan pengetahuan baru justru dari guru-guru saya ini yang mereka lebih muda usianya ketimbang saya, saya memanggil mereka dengan panggilan sensei dan dengan kawan-kawan saya memanggil mereka dengan nama panggilan mereka tanpa embel-embel dik, kak, mas, mbak, bang, cik, pak, bu dan nama-nama yang menggambarkan status sekali, cukup sebut nama panggilan mereka saja :)

Mereka pun melihat saya sebagai kawan mereka, itu yang saya rasakan, saya pun merasa senang ketika mereka mengejek (dalam arti bercanda, bukan ejekan yang sesungguhnya), mengganggu, dan melakukan candaan apapun kepada saya, seolah saya menjadi korban pembullyan, tapi saya menganggapnya adalah hiburan, karena mereka semua juga melakukannya hanya karena bercanda, dan tentunya tanpa mereka sadari saya 10 tahun atau lebih tua dari mereka, berarti saya awet muda, hahaha :D terbukti mereka mengira saya sebaya mereka, sebelum pada akhirnya saya ketahuan juga. Bahkan kita sangat akrab dan pandai memainkan peran kita masing-masing dan kita sering menyebutnya “ini settingan loh”.

Melihat mereka, kawan-kawan baru saya ini, seolah saya menyaksikan diri saya sendiri dalam cermin masa lalu, dimana ketika itu saya masih usia belasan tahun, bahkan saya merasa mereka seperti murid-murid saya ketika saya sempat mengajar. Dan sekarang mereka ada di hadapan saya dalam dunia nyata, saya ikut menjadi diantara mereka dalam level yang sebaya. Ada perasaan campur baur dalam sanubari saya saat itu. Kadang saya merasa seharusnya saya tidak serakah mengambil jatah mereka dimasa mereka untuk ikut bergelut dalam waktu mereka ini. Kadang saya juga merasa malu karena saya sudah lebih tua dibandingkan mereka, seharusnya saya menjadi teladan yang hebat di mata mereka. Namun kemudian saya nekat untuk menikmati itu semua, belajar bersama mereka merasakan kembali menjadi muda menjadi anak usia belasan, terserah apa kata dunia, ambil positifnya, yang terpenting saya tak menyalahkan mereka bagaimana mereka memandang orang seperti saya dalam pandangan mereka bahwa saya tua, tak pantas dan semacamnya. Adalah kesempatan berharga dalam hidup saya mampu mengenal mereka dimana diantara mereka adalah orang-orang hebat.

Setiap apapun dalam hidup adalah sebuah pengalaman berharga yang tak ternilai. Ketidaksengajaan yang saya fikir mungkin sesuatu yang sia-sia, ternyata tidak ada yang sia-sia, dari pengalaman kisah nyata KEMBALI MUDA KEMBALI ini saya banyak dilihatkan kepada bagaimana masih banyak yang berjuang selain kita, dan setiap kita adalah pejuang dalam hidup, dengan berbagai cara, status, usia, dan latar belakang yang berbeda-beda tetap satu makna. Maknanya adalah apakah kita hanya sibuk berkutat pada jubah kita, pada kesejahteraan yang kita pandang kita telah sukses, pada kekalahan yang sejatinya kalah kitalah yang melihatnya sebagai sebuah kekalahan atau kemenangan yang tertunda?

Banyak cerita yang luar biasa yang sulit untuk dilupakan, terimakasih adik-adikku, mungkin ada kakakku, sensei, dan Tuhan Yang Maha Kasih. Tentunya dalam memerankan drama kehidupan ini saya pernah melakukan kesalahan-kesalahan untuk itu saya memohon maaf, dan tentunya saya berterimakasih atas segala kebaikan hati dari kawan-kawan sekalian tanpa terkecuali, senyuman indah kalian, semangat kalian itulah amal yang tak ternilai bagi kita, berjuanglah untuk senantiasa berbagi hati kita dalam kebaikan, semogalah kebaikan senantiasa menaungi kita sekalian. Amin

Minna San, Doumo Arigatou Gozaimasu (terimakasih banyak kawan-kawan sekalian) :D


Minggu, 12 Oktober 2014

ANALOGI HUJAN



ANALOGI HUJAN

Meski saya bukanlah orang filsafat, saya akan tetap berfilosofi sesuka, semau hati saya.

Hujan merupakan diksi sekaligus kenangan paling abadi yang tersimpan di dalam atmosfer bumi bersama kehidupan bumi itu sendiri. Hujan hadir tak serta-merta langsung muncul begitu saja dalam sebentuk air. Ada proses panjang terbentuknya hujan hingga kita bisa menikmatinya dengan begitu segar menyejukkan.

Kita mengetahui hujan bermula dari air laut yang naik ke angkasa menjadi butir-butir air di langit yang berkumpul dalam sebentuk awan. Awan dibawa oleh angin. Awan akan jatuh ke bumi ketika butir-butir air berkumpul menjadi banyak dan semakin berat. Akhirnya awan jatuh dalam sebentuk hujan. Siapakah yang mampu mengatur-Nya sedemikian rupa. Dialah Tuhan

Andaikan hujan adalah kehidupan, ia mewakili kehidupan. Dimana hidup adalah proses, adalah nikmat dibalik hikmat, adalah rangkaian mata rangkai yang tak mungkin lepas satu sama lain. Sebab hidup adalah rantai yang terangkai dari susunan tahap per tahap. Sebab hidup adalah hujan itu sendiri.

SALAM PENGGEMAR HUJAN

MELIHAT, MENDENGAR, MERASA



MELIHAT, MENDENGAR, MERASA
(Dewasa)

Akhir musim kemarau panjang ini, merupakan awal hujan yang sangat dinantikan. Telah banyak kisah hidup ini, baik-buruk sudah dilalui dengan berbagai cerita dibalik maknanya. 

Ibarat menyaksikan sebuah pergelaran drama Dari Tuhan, hal itulah yang akan saya ceritakan. Menyaksikan opera kehidupan yang tersaji sempurna dalam frame kacamata hati bagi rasa, mata mengamati, dan dengan telinga menyimak.

Pertama, saya menyaksikan kisah dari kehidupan seorang teman dari keluarganya. Seperti paradox kehidupan itulah yang saya maknai dari kisahnya ini. Dalam keluarganya yang kental sekali akan ajaran agama yang taat, dibuktikan dengan pendidikan berbasis agama yang dikenyam oleh anak-anak dari keluarga ini. Bahkan ayahnnya merupakan pengutbah rohani di mimbar. Tiba-tiba salah satu anak dari keluarga tersebut menyimpang dari aturan yang sudah terbentuk kental akan agama yang mereka pegang teguh. Anak tersebut “menghamili” sebelum menikah. Sontak tak percaya tapi nyata. Lahirlah anak kecil tanpa dosa dari buah perbuatan haram dari orangtuanya. Tanpa bermaksud “sok suci” saya hanya berusaha menyampaikan dengan gaya saya.

Setelah kejadian tersebut banyak perubahan yang saya rasakan dari keluarga ini khususnya teman saya tersebut. Mereka terasa lebih dingin tak seramah dahulu kala. Hal ini membuat hati saya terenyuh, segala upaya yang bisa saya lakukan seolah tak membuat pandangan mereka, seolah terusik, terganggu dan merubah pandangan saya bahwa mungkin itulah sikap mereka. Saya pun tak akan ikut campur. Tapi jujur saya ada sedikit merasa iba sekaligus sangat disayangkan tak seharusnya mereka harus merubah sikap mereka. Tapi inilah salah satu bentuk cerita Dari Tuhan yang saya hanya bisa menyaksikan dengan bijak "idealnya".

Cerita selanjutnya tentang seorang anak manusia lugu, nalar, dan cerdas dengan kisah cintanya yang memilukan. Ia datang dari jauh-jauh Jakarta ke Jogjakarta. Ia berangkat menggunakan kereta  hanya berbekal hati dan jiwanya yang besar. Ia akan menemui mantan kekasihnya kala berkuliah di Jogjakarta, hingga kini ia tetap setia dengan kelajangannya karna baginya hanya mantan kekasihnyalah yang pertama dan masih yang pertama hingga kini, -entah kedepan- yang pasti ia meyakini jodoh sudah ada Yang Mengatur, -jodoh tak lari kemana-. Sebenarnya apa yang ia cari, yang ia kunjungi sehingga ia sedari pagi buta menyempatkan datang ke Jogjakarta?... adalah menghadiri undangan pernikahan sang mantan kekasihnya. Bayangkan bagaimana seharusnya perasaannya. Namun di luar sangkaan kita ia terlihat tegar dan semangat tanpa ada raut kesedihan. Inilah Kisah Drama Yang Tuhan tunjukkan kepada saya.

Dan yang terakhir kisah tentang orang-orang beruntung yang bahagia dikaruniai rezeki halal dan cukup, suami dan istri yang penyayang, dan anak-anak yang sholeh dan sholehah, mereka sederhana dalam kekayaan yang Dipercayakan kepada mereka, mereka ramah dan santun dalam kehormatannya, mereka berjuang dan gigih dalam cita dan asa, mereka bekerja keras penuh tanggung jawab dalam kepemimpinannya.

Merekalah semua teman-teman, saudara dan orang-orang yang menjadi manusia yang memahami bahwa segala kehidupan cerita dalam kehidupan ini, entah dalam bentuk baik dan buruk dalam pandangan manusia. Mereka menerima dengan tetap berusaha memperbaiki diri tanpa berhenti. Sebab ujian, cobaan Yang Tuhan titipkan bukan untuk kita keluhkan, bukan untuk kita dendamkan. Dalam dualisme ujian Tuhan melihatkan kepada kita tentang sandiwara kehidupan. Ada yang di uji dalam bentuk kebahagiaan, ada pula yang di uji dalam bentuk kesedihan. Kesemuanya bermuara pada satu sumber. Ingatkah kita akan Kasih, Sayang-Nya?... Ia lah Yang Maha Besar, Maha Kasih, dan Maha SEGALANYA.



JAM BERAPA?